SEGI-SEGI DASAR KONSELING


Pengertian

Konseling yang berasal dari bahasa Inggris “Counseling”, pengertiannya dapat dilihat dari segi bahasa dan dari segi layanan professional. Dari segi bahasa, konseling terkait dengan kata counsel yang berarti nasehat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel), dan pembicaraan (to take counsel). Dengan demikian dari segi bahasa, konseling mengandung pengertian pemberian nasehat, anjuran atau pembicaraan.  Dalam educational dictionarynya, Good (dalam Burks & Steffle, 1979), mende-finisikan “counseling is a relationship in which one or more person with a problem or concern desire to discuss and work toward solving it with another person or persons attempting to help them reach their goa”. Dalam dictionary yang lain Englih and English (dalam Burks & Steffle, 1979) menyatakan: “counseling a relationship in which one person endeavors to help anther to understand and solve his adjustment problems. The area of adjustment is often indicated educationan counseling, vocational counseling, social counseling, etc”. Lebih lanjut dia menyatakan bahwa :”Counseling is two way affair involving both counselor and counselee. Unfortunately, both noun and verb counsel retain an older meaning of advice giving, which is now conceve as only part of the counseling process”.

Dari segi layanan professional, konseling memiliki definisi deskriptif yang dilemukakan oleh para ahlinya di dalam literature professional Amerika. Namun demikian definisi yang dikemukakan oleh para ahlinya tersebut sesuai dengan orientasi pandangannya masing-masing. Dengan demikian mun-cul berbagai macam definisi deskriptif mengenai konseling; akibatnya tidak ada definisi konseling yang dapat “dipegang” teguh sebagai acuan utama. Demikianpun keadaannya di Indonesia, karena konsel-ing yang berkembang di Indonesia bersumber dari literature professional dari Amerika. Dalam literature professional Amerika, definisi konseling dapat dipandang sebagai komunikasi antar pribadi (relationship), sebagai proses yang dilalui (process), dan sebagai pertemuan tatap muka (face to face relationships).

Beberapa contoh definisi konseling dari ketiga pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Counseling denotes a professional relationship between a trained counselor and a clinet. The ralationship is usually person to person, although it may some times involve more than two person. It is design to help client to understand and clarify their view of their life-space, and  to learn to reach their self-determined goal through meaningful, well informed choices and through resolution of problems af emotional or interpersonal nature (Burks & Stefflre, dalam George & Cristiani, 1991).

b. Counseling as “…the application of counseling procedures and other related areas of the behavioral sciences to help in learning how to solve problems or make decisions related to careers, personal growth, marriage, family, or other interpersonal concern” (APGA dalam George & Cristiani, 1991).

c. Counseling is a process in which the counselor assists the counselee to make interpretations of facts relating to a choice, plan or adjustment which the needs to make (Smith dalam Winkel, 1991).

d. Individual counseling or psychotherapeutic counseling is two person situation consisting of an expert and a client who meet in formally agreed upon way for the explicit purpose of dicussing the problem of the client. The goal of the meeting is to reduce the severity of the problems that the client has, which means that some change  should occur in the client psychological condition ways of managing the business of living or both (Julan Wohl dalam Winkel, 1991).

e. Konseling adalah bentuk psikoterapi dalam pengertian umum bagi orang normal yang mengalami gangguan atau masalah psikologis sebagai incapacitating problems. Dalam arti kusus, konseling adalah suatu jenis bantuan dalam bentuk wawancara yang mengharuskan interaksi dan komunikasi yang mendalam, pergumulan antara konselor dan klien dengan tujuan pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan atau perubahan tingkah laku atau sikap (Berry, 1992).

Mengacu kepada pengertian konseling di atas, beberapa salah pengertian yang sering dijumpai dalam praktek keseharian berkenaan dengan pemahaman tentang konseling—dan sudah barang tentu perlu dihindari adalah sebagai berikut: (1) Konseling sebagai usaha pemberian nasehat, (2) Konseling sebagai pemberian informasi, (3) Konseling menciptakan ketergantungan klien kepada konselor, (4) Konseling mempengaruhi klien, (5) Konseling harus netral nilai, dan (6) Konseling sama dengan interview.     

Azas konseling: hubungan interpersonal

Berbagai macam definisi konseling berdasarkan pandangan masing-masing ahli mengetengah-kan secara tersirat pengertian konseling sebagai komunikasi antar pribadi, sebagai proses dan sebagai hubungan/pertemuan tatap muka berintikan hubungan interpersonal sebagai azasnya. Hal ini terkait dengan praktek konseling, yaitu bahwa di dalam proses konseling terjadi hubungan atau interaksi personal antara konselor dan klien yang bercorak membantu (helping relation). Rogers (1961) menegaskan tentang relationship dalam konseling sebagai berikut: … a relationship in which at least  one of the parties has the intens of the other. The other, in this sense may be one individual or group”.  

Ciri-ciri hubungan antar pribadi yang menjadi kekhasan konseling menurut Winkel (1991) adalah sebagai berikut:

a.Bermakna, baik untuk konselor maupun konseli, karena kedua belah pihak melibatkan diri sepenuhnya.

b.Mengandung unsur-unsur kognitif dan afektif, karena konselor dan konseli berpikir bersama, serta alam perasaan konseli sepenuhnya diakui dan ikut dihayati oleh konselor.

c.Berdasarkan saling kepercayaan dan saling keterbukaan. Kedua partisipan saling mengan-dalkan sebagai pribadi yang berkehendak baik.

d.Berlangsung atas dasar saling memberikan persetujuan, dalam arti konseli menyetujui terja-dinya komunikasi secara suka rela dan konselor menerima dengan rela permintaan untuk memberikan bantuan professional.

e.Terdapat suatu kebutuhan di pihak konseli yang diharapkannya dapat dipenuhi melalui wawancara konseling. Di pihak koselor kebutuhan itu disadari dan diakui termasuk lingkup keahliannya  untuk berusaha memenuhinya.

f. Terdapat komunikasi dua arah, dalam arti konselor dan konseli saling menyampaikan pesan atau saling mengirimkan berita, baik melalui saluran verbal maupun saluran non-verbal. Pesan atau berita itu saling ditanggapi.

g.Mengandung strukturisasi, dalam arti komunikasi tidak berlangsung ala kadarnya seperti lazimnya dalam komunikasi social non-profesional. Dalam hal ini konselor memikul porsi tanggungjawab yang lebih besar, upaya komunikasi terarah; paling sedikit reaksi-reaksi konselor mengikuti ungkapan pikiran dan perasaan konseli.

h.Berazaskan kesuka-relaan dan usaha untuk bekerja sama agar tercapai suatu tujuan yang disepakati bersama.

i.Mengarah ke suatu perubahan pada diri konseli; perubahan itu adalah tujuan yang hendak dicapai bersama. Berkat komunikasi antar pribadi diharapkan konseli akan berubah sikap, pandangan dan berubah dalam mengambil tindakan dibanding dengan saat sebelum proses konseling dimulai. Dengan kata lain konseli belajar sesuatu dari pertemuan dengan konselor, sehingga perkembangan selanjutnya berlangsung lebih positif. Bahkan, konselor sendiripun kerap belajar sesuatu dari pertemuan dengan konseli yang memperkaya kepribadiannya.   

j.Terdapat jaminan bahwa kedua partisipan merasa aman, dalam arti konseli dapat yakin akan keikhlasan konselor, sehingga keterbukaannya tidak akan di salah gunakan oleh konselor; dan konselor yakin akan kestabilan kepribadiannya sendiri sehingga tidak akan mengalami kegoncangan dalam berkontrak dengan konseli.

Agar supaya hubungan interpersonal antara konselor dan konseli dalam proses konseling dapat berlangsung wajar dan baik sehingga tujuan konseling tercapai, harus dipenuhi beberapa syarat, baik syarat internal maupun eksternal. Pesyaratan internal menyangkut persyaratan untuk konseli dan konselor. Persyaratan internal konseli mencakup sikap percaya kepada konselor, bermotivasi kuat untuk menyelesaikan masalah, keinsyafan akan tangungjawab konseli sendiri dalam mencari penyelesaian masalahnya, dan keberanian serta kemauan konseli dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta masalah yang dihadapinya. Sedang pesyaratan internal konselor adalah karakteristik dan kualitas pribadi konselor, dan pesyaratan core conditionuncondition positive regard, facilitating condition, emphatic, understanding, respect, caring, genuines, acceptance attentive, concreteness, dan memiliki keterampilan dasar komunikasi konseling.

Prinsip-prinsip dasar dan unsur-unsur konseling

Konseling sebagai proses komunikasi antara dua pribadi dalam corak pemberian bantuan  agar tujuan konseling tercapai, yaitu klien memahami diri, menerima diri, mampu mengarah-kan diri, berubah perilaku salah suai, mampu membuat keputusan, mampu memecahkan sendiri masalahnya, maka beberapa prinsip dasar konseling yang perlu dijadikan acuan adalah sebagai berikut:

a. Membawa akibat yang mendalam dan tahan lama pada individu, baik   dalam perkembangan pribadi atau jalan hidupnya di kemudian hari.

b.Bergerak dalam lapangan nlai, sikap, pribadi, emosi dan masalah-masalah hidup.

c.Hasil konseling adalah peningkatan kemampuan memutuskan, membuat pilhan, penyesu-aian diri dan kesehatan mental.

d.Mengharuskan adanya interaksi dan keterlibatan dua pribadi dalam proses problem solving.

Selanjutnya unsur-unsur inti konseling yang harus diwujudkan dalam prosedur konseling agar konseling berhasil mencapai tujuan, menurut Dedi Supriadi (1997) adalah sebagai berikut:

a. Rapport, yaitu situasi atau suasana dimana relasi konselor dan klien diliputi saling penger-tian, kebebasan klien untuk menyatakan perasaannya, perasaan dihargai dan diterima oleh konselor.

b.Penghormatan terhadap individu, yaitu konselor mengakui Fulan sebagai Fulan, sebagai individu yang memiliki martabat luhur dan harga diri.

c.Penerimaan (acceptance), yaitu konselor meneima klien sebagaimana adanya, tanpa kondisional dan tidak ada pamrih tertentu (unconditional positive regard).

d.Emphaty, yaitu kemauan dan hasrat yang kuat dari konselor untuk merasakan apa yang klien rasakan, seakan-akan konselor sendiri mengalami masalah yang dialami oleh klien.

e.Kerahasiaan (confidentiality), yaitu meyakinkan klien bahwa apa yang dibicarakan dan diungkapkan klien dalam proses konseling tidak akan disampaikan kepada orang lain tanpa izin dan sepengetahuan klien—jaminan kerahasiaan.

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.  2005. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung ABKIN.

Brooks, J.G. & M.G. Brooks. 1993. The case for contructivist classroom. New York: Teacher College Press.

Corey, G. 2001. The Art of integrative Counseling. Belmont, CA: Brooks/Cole

Corey, G. 2005. Theory and practice of counseling and psychotherapy (7th ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole-Thomson Learning

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Jakarta: Departemen Pendiikan Nasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: BNSP.

Prochaska, J.O., Nrcross, J.C. 2003. System of psychotherapy: A transtheoretical

analysis (5th ed). Belmont CA: Brooks/Cole.

Sutanto, L. 2006. Kemanjuran terapi kedamaian: Suatu Randomized Controlled Trial. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Sutarno. 2002. Segi-segi dasar konseling (suatu uraian singkat). Makalah pembuka dalam Seminar nasional peningkatan profesionalisme Guru Pembimbing dalam rangka Dies Natalis UNS ke 26 pada tanggal 22 April 2002. Surakarta: UNS.

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2005, tentang Undang-undang Guru dan Dosen. Jakarta: sinar Grafika.