GAYA KONSELING BERDASARKAN TIPOLOGI JUNG


Asumsi-Asumsi Dasar

Ada empat asumsi yang mendasari lahirnya sistem klasifikasi ini berdasarkan tipologi Jung.

Pertama,  sistem  klasifikasi yang  baik  akan  membantu  dalam  mengorganisasikan  pola-pola  praktek konseling  tetapi  tidak  meredusir  konselor  pada  suatu  tipe.  Dalam kenyataannya,  konselor  tidak  sesuai  dengan  satupun  tipe  karena  mereka beragam, bahkan kadang-kadang perilakunya kontradiktif. Konseling dicirikan dengan inkonsistensi (misal, menekankan  kepada  salah  satu  tujuan,  yaitu  tujuan  individu  atau  tujuan sosial) dan konsistensi (misal, menekankan kepada kondisi relationship).

Kedua,  bahwa  ciri-ciri  umum  dari  tipe  konseling  tidaklah  tetap  atau abadi. Masing-masing tipe konseling dikelompokkan dalam atribut potensial yang  beragam,  tergantung  pada  sejarah  serta  situasi  dan  kondisi. 

Ketiga, bahwa sistem klasifikasi itu terbatas. Empat gaya utama konseling ini (Jung) mungkin  tidak  menjelaskan  seluruh  bentuk  konseling,  namun  sengaja ditonjolkan. Kebanyakan konselor mengkombinasikan ciri-ciri  gaya-gaya  konseling  yang  berlawanan  dan  kemudian  tidak  mudah  dijelaskan dalam istilah dari salah satu gaya.

Keempat, tidak ada gaya yang lebih valid atau  diperlukan  sekali  dari  pada  yang  lain.  Setiap  gaya  konseling  memiliki kekuatan  maupun  kelemahan,  dan  beberapa  gaya  dapat  menjadi  rusak apabila dipaksakan dengan ekstrim.

Sistem Jungian

Sistem  psikologis  Jung  merupakan  dasar  yang mengikuti skema klasifikasi.  Dalam pandangan proses kognitif, sistem Jung dapat  diklasifikasian  dalam  dua  dimensi,  yaitu  dimensi  informasional,  yang lebih  suka  pada  data  input,  dan  dimensi  pengambilan  keputusan,  yang merujuk  pada  proses  penalaran  yang  dicirikan  dengan  membawa  sesuatu menuju kepada jenis-jenis yang disukai dari data input.

Jung  menyatakan bahwa informasi diproses  melalui  pengindraan  atau intuisi.  Dalam  kategori  pengindra,  individu  memproses  informasi  dengan secara  langsung  menstransmisikan  rangsang  fisik  (melalui  indera penglihatan,  perabaan,  dan  pendengaran)  ke  dalam  kesadaran.  Tipe pengindra  adalah  realistik,  lebih  menyukai  fakta  dan  detail  dari  situasi.

Mereka  ini  cenderung  analitik,  praktis,  beroirientasi  saat  ini,  dan  obyektif, dengan penghargaan kepada realitas. Sebaliknya, individu  yang  mengarah  kepada proses intuitif,  membawa rangsang  kepada  tingkatan  yang  lebih  tinggi  dari  pada  tipe  pengindra, dengan  memperkaya  dan  mengelaborasi  melalui  semantik  atau  analisis kognitif. Karena itu, mereka ini cenderung idealis, tidak berorientasi kepada bagian-bagian  obyektif  tetapi  dikonseptualisasikan  dalam  keseluruhan, situasi  dan  kondisi  yang  diterima  dengan  segera  selalu  dikuti  dengan pembuatan hipotesis.

Kemiripan  terjadi  di  bidang  pertimbangan,  salah  satu  caranya  adalah mengunakan  pemikiran,  yaitu  menggunakan  proses  penalaran  serta menyandarkan  kepada  aturan-aturan  logika  (diawali  dengan  pembuatan premis dan diakhiri dengan kesimpulan) dalam menilai sifat-sifat, makna, dan penggunaan  sepenuhnya  terhadap  sesuatu.  Sebaliknya,  perasaan, mendasarkan  penilaiannya  kepada  tujuan,  kebutuhan,  dan  kepedulian manusia.  Dibandingkan  dengan  pikiran,  perasaan  menyandarkan  kepada pertimbangan  nilai-nilai  personalitik  dari  pada  abstraksi  logika.  Perasaan, bukan berarti emosi, tetapi lebih kepada gaya penalaran yang berhubungan dengan pembuatan keputusan berdasar nilai-nilai personal.

Menurut  Jung,  masing-masing  dari  dua  dimensi  psikologis  tersebut memiliki  dua  proses  psikologis  yang  berlawanan,  dan  seseorang  akan mengembangkan  pilihan  dan  kompetensinya  dalam  salah  satu  cara  atau mode atau yang lainnya, dan karena masing-masing dimensi tersebut bebas, maka  seseorang  dapat  mengkombinasikan  dalam  empat  cara  untuk memproleh  empat  tipe  kepribadian,  yaitu  :  (1)  pengindraan/pikiran,  (2) pengindraan/perasaan, (3) intuisi/perasaan, dan (4) intuisi/pikiran

Tipe atau Gaya Konseling

Berdasarkan  hal  di  atas,  tipe  atau  gaya  konseling  dapat  diidentifikasi menjadi  empat,  yaitu  :  (1)  ilmu  terapan  (pengindraan/pikiran),  (2)  estetika (penindraan/perasaan),  (3)  filosofis  (intuisi/pikiran),  dan  (4)  advokasi (pengindraan/intuisi).

Dalam kaitannya dengan fungsi konseling, ciri dari masing-masing gaya di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

Baca lebih lanjut

Konseling Client Centered / Berpusat pada Pribadi


a. Prinsip Dasar

Pendekatan konseling dengan tokoh utama Carl Rogers ini pada awalnya bernama Non-directive Counseling, kemudian berkembang dan berubah nama dengan Client Centered Counseling, dan akhirnya menjadi pendekatan Personal Centered Counseling.

Pendekatan ini berpandangan bahwa manusia pada dasarnya: (1) mempunyai hak untuk berpandaangan sendiri, menentukan haluan hidupnya sendiri serta bebas mengejar kepentingan sendiri selama tidak melanggar hak-hak orang lain, (3) memiliki kemampuan, dorongan, dan kecenderungan untuk mengembangkan diri sendiri seoptimal mungkin, (4) dalam berperilaku untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan selalu sesuai dengan pandangannya sendiri terhadap dirinya sendiri dan keadaan yang dihadapi, dan (5) akan menghadapi permasalahan jika diantara unsur-unsur di dalam gambaran tentang diri sendiri timbul pertentangan, lebih-lebih antara “real self”/siapa saya senyatanya dengan “ideal self”/saya seharusnya menjadi yang bagaimana.

  Baca lebih lanjut

Konseling Post-Modern: Terapi Berfokus Solusi


Landasan Filosofis

Perbedaan lensa pandang secara  filosofis antar para pakar utamanya di kampus-kampus masa kini yaitu perdebatan antara mereka pengikut konstruktivisme dengan empirisisme. Inti pernyataan konstruktivisme tentang pengetahuan adalah: Manusia, sebagai insan yang bertindak mengetahui, tidak dapat meraih pengetahuan tentang realitas yang objektif atau lepas-bebas (independen) dari dirinya. Realitas bukanlah sesuatu yang nun jauh di sana, karena ini dibangun (dikontruksikan) di dalam diri masing-masing manusia. Kita tidak bisa meraih pengetahuan tentang bagimana dunia ini sesungguhnya (we canot attain knowledge or how the world really is). Semua pengetahuan bersifat relatif ia selalu ditentukan oleh konstruk, budaya, bahasa, atau teori yang kita terapkan kepada suatu fenomena tertentu.

Realitas benda-benda konkret atau eksistensi fisis memang tidak bisa disangkal, namun  mereka bukanlah objek-objek dari inteligensi dan bahasa. Dengan inteligensi dan bahasa itulah manusa membangun (mengkontruksikan) realitas. Dengan demikian, realitas yang kita bangun  (realitas yang dikonstruksi) adalah buah dari budaya dan bahasa kita. Kita pun tidak bisa mengetahui klien dan masalah-masalah mereka secara murni dan langsung. Yang berada dalam lingkup pengetahuan kita hanyalah penafsiran-penafsiran (interpretasi-interperetasi) kita tentang klien dan masalah-masalah mereka. Teori-teori yang berbeda, bahasa-bahasa yang berbeda, dan budaya-budaya yang berbeda, masing-masing menghasilkan persepsi-persepsi yang berbeda tentang seorang klien yang sama. Bahkan setiap klien pun berpartisipasi aktif dalam membangun (mengkonstruksikan) realitasnya sendiri.

Di sisi lain, empirisisme meyakini betapa manusia yang berbekal metode ilmiah yang tepat bisa menemukan pengetahuan yang terpercaya (reliable) dan sahih (valid) tentang klien dan masalah-masalah atau kondisinya. Maka berdasarkan empirisisme,  dunia profesi pembantuan (helping professions) mengenali ketegori-kategori diagnosis tertentu untuk menandai masalah-masalah atau kondisi-kondisi klien, semisal gangguan obsesif-kompulsif, gangguan pemuasan perhatian dan hiperaktivitas, dan sebagainya. Penerapan metode ilmiah akan menghasilkan pengetahuan yang memadai tentang realitas klien, semisal tentang lingkungan sosial klien, penyebab-penyebab sejati kondisi atau masalah klien, dan solusi-solusi terbaik untuk membantu dia mengatasi masalah-masalahnya. Memang pada suatu titik dalam rentangan sejarah, umat manusia tidak senantiasa berhasil mencapai atau mengembangkan semua teknologi ilmiah tentang penyebab-penyebab dan terapi untuk suatu kondisi tertentu yang dialami oleh klien. Namun umat manusia bergerak maju menuju pencapaian dan pewujudan peranti-peranti serta cara-cara ilmiah untuk meraih pengatahuan tentang realitas klien yang kompleks itu. Baca lebih lanjut

Konseling Behavioral


Prinsip Dasar

Pendekatan konseling behavioral berpandangan bahwa manusia itu: (1) Lahir netral, artinya manusia lahir baik atau tidak baik/buruk/jahat; (2) Lahir dengan membawa kebutuhan dasar, tetapi sebagian besar kebutuhan dipelajari dari interaksinya dengan lingkungan; (3) Kepribadiannya berkem-bang bersama-sama dalam interaksinya dengan lingkungannya; (4) Mempunyai tugas untuk berkem-bang yang dilaksanakan dengan belajar; dan (5) Hasil serta menghasilkan /penghasil lingkungan.

Konsep Dasar

Konsep dasar dalam pendekatan konseling behavioral meliputi hakekat tingkah laku, prinsip belajar, dan perkembangan tingkah laku dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Hakekat tingkah laku.

Tingkah laku manusia menurut pandangan konseling behavioral (a) diperoleh melalui belajar, dan kepribadian terbentuk melalui kemasakan dan proses belajar, (b) tingkah laku tersusun dari respons-respons kognitif, motorik dan emosional terhadap stimuli, baik intenal maupun eksternal, (c) dipengaruhi oleh variable-variabel kompetensi, strategi dan susunan pribadi, harapan-harapan atau hasil, nilai stimulus, system dan rencana pengaturan diri.

2. Prinsip belajar

Sesuai dengan pandangan bahwa tingkah laku merupakan hasil belajar, maka perkembangan tingkah laku manusia terkait erat dengan prinsip-prinsip belajar, yaitu bahwa tingkah laku manusia dapat dilihat dari dua sisi berikut: (1) Sisi kondisi yang mendahului/pengawal tingkah laku sebagai antecedent, dan (2) Sisi kondisi yang menyertai atau akibat yang menyertai tingkah laku setelah tingkah laku terbentuk dengan antecedent, disebut dengan consequence.

Terkait dengan sisi-sisi tingkah laku tersebut ada tiga teori belajar, yaitu:

a) Teori belajar classical conditioning yang juga disebut dengan respondent conditioning memusatkan pada kondisi pengawal tingkah laku/antecedent sebagai stimulus yang menimbulkan respons relektif pada diri manusia. Tokoh utama teori ini adalh Thorndike.

b) Teori belajar operant conditioning yang juga disebut dengan instrument conditioning memusatkan pada kondisi yang menyertai tingkah laku (consequence). Tokoh utama teori belajar ini adalah Skinner.

c) Teori belajar social yang juga disebut dengan teori belajar observational, imitatif atau modeling mendasarkan pada prinsip bahwa kejadian/peristiwa belajar merupakan hasil dari interaaksi antara lingkungan internal dan eksternal yang saling mempengaruhi; dan tingkah laku pada umumya merupakan hasil dari peniruan atau modeling. Tokoh utama teori belajar ini adalah Bandura.

Baca lebih lanjut

Terapi Gestalt (Gestalt Therpy)


CounselingTerapi Gestalt dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu –individu harus menemukan jalanhidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka mengharapkematangan. Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran, terapi Gestalt berfokus pada “apa “ dan “ bagaimana”-nya tingkahlaku dan pengalaman di sini-dan–sekarang dengan memadukan (mengintegrasikan) bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tidak diketahui.

Asumsi dasar terapi Gestalt adalah bahwa individu-individu mampu menangani sendiri masalah-masalah hidupnya secara efektif. Tugas utama terapis adalahmembantu klien agar mengalami sepenuhnya keberadaannya di sini dan sekarangdengan menyadarkannya atas tindakannya mencegah diri sendiri merasakan dan mengalami saat sekarang.

Oleh karena itu terapi Gestalt pada dasarnya non-interpretatif dan sedapat mungkin klien menyelenggarakan terapi sendiri. Mereka membuat penafsiran –penafsirannya sendiri, menciptakan pernyataan-pernyataanya sendiri, dan menemukan makna-maknanya sendiri. Akhirnya, klien didorong untuk langsung mengalami perjuangan di sini-dan –sekarang terhadap urusan yang tak selesai di masa lampau. Denganmengalami konflik-konflik, meskipun hanya membicarakannya, klien lambat launbisa memperluas kesadarannya.

Sejarah Gestalt Therapy

Frederick S (“Fritz”) Perls (1893-1970) Pencetus Utama dan pengembang teori Gestalt. Lahir di Berlin dari keluarga Yahudi kelas menengah bawah. Dia merasabahwa dirinya menjadi sumber masalah bagi orangtuanya, dia gagal dua kali padatingkat tujuh dan terbuang dari sekolahnya. Dia berusaha menyelesaikan sekolahnyadan mendapat gelar MD. Dengan spesialisasi sebagai psikiater. Pada tahun 1916 ia bergabung dengan tentara jerman sebagai tenaga medis pada perang dunia I.

Setelah perang Perls bekerja bersama Kurt Goldstein pada institut Goldstein untukKerusakan otak tentara di Frankfurt. Dari sinilah ia melihat pentingnya manusia dipandang sebagai satu keseluruhan bukan dari sejumlah fungsi bagian-bagiannya. Baca lebih lanjut

BIBLIOTHERAPY SEBAGAI METODE TREATMENT*)


Pengantar

bibliocounselingPenggunaan buku untuk tujuan treatment memperoleh perhatian khusus dan luas pasca Perang Dunia I dan II. Dengan banyaknya tentara yang kembali dari perang dengan gangguan atau simtom pasca trauma, bibliotherapy dipandang sebagai treatment yang efektif dari sisi biaya. Sejak itulah penggunaan bibliotherapy meluas dan saat ini digunakan dalam profesi “membantu”, pada setiap kelompok usia pada berbagai populasi. Bibliotherapy digunakan oleh konselor sekolah (Gladding, 2005), pkerja sosial (Pardeck, 1998), perawat kesehatan mental (Frankas & Yorker, 1993), guru (Kramer & Smith, 1998), dan pustakawan (Bernstein, 1989).

Bibliotherapy  digunakan  untuk  mengatasi  berbagai  isu  dan  permasalahan.  Banyak  yang menggunakan  buku  dalam  program  pendidikan  karakter  (Kilpatrick,  Wolfe,  &  Wolfe,  1994), sedangkan  yang  lain  menggunakan  untuk  kesulitan  yang  lebih  spesifik,  seperti  kematian  dan keadaan menjelang kematian (Todahl, Smith,Barnes, & Pereira, 1998), dan perceraian (Kramer & Smith, 1998).

Istilah bibliotherapy terbentuk dari dua kata: biblio, berasal dari bahasa Yunani, biblus (buku), dan therapy, menunjuk pada bantuan psikologis. Secara sederhana, bibliotherapy didefinisikan sebagai penggunaan buku untuk membantu orang mengatasi masalahnya.

Pada artikel sebelumnya telah dikemukakan beberapa definisi bibliotherapy, yaitu dari Webster, Berry, dan Baker. Meskipun definisi dari Baker (1987) lebih klinis dan komprehensif, namun seluruh definisi di atas memiliki satu kesamaan, yaitu bahwa bibliotherapy memerlukan beberapa bentuk kegiatan membaca.  Akan  tetapi  tidak  semuanya  menyetujui  bahwa  bacaannya  harus  fiksi  atau  nonfiksi (Pardeck, 1998), dan terdapat pemisah yang jelas diantara terapis mengenai jumlah terapi yang dibutuhkan dan keterlibatan terapis. Jumlah terapis berada pada suatu kontinum, dari buku bantu diri (self‐help) di satu sisi, dimana buku merupakan agen terapeutik dan keterlibatan terapis dalam kadar minimal, dengan buku yang disajikan sebagai alat bantu di sisi lain dan keterlibatan terapis dalam kadar yang sangat penting. Perbedaan jumlah terapis dalam treatment bibliotherapy paling besar dipengaruhi oleh orientasi teoritis terapis. Perbedaan orientasi teoritis ini bertanggung jawab atas terbentuknya dua area utama bibliotherapy yaitu “kognitif” dan “afektif”. Baca lebih lanjut

BIBLIOTHERAPY: Definisi, Sejarah dan Tujuan*)


Pengantar – definisi dan tujuan

Selama berabad‐abad buku telah menjadi “terapis bisu” bagi begitu banyak orang. Melalui buku, pembaca dapat sepenuhnya memasuki peran baru; mereka seolah‐olah mengalami sendiri contoh‐ contoh kehidupan dan gaya hidup. Fiksi yang baik dapat memberikan klien model‐model yang dapat  membantunya mengatasi masalah yang dihadapinya. Nonfiksi yang bermutu, terutama buku‐buku bantu diri (self‐help book) dapat memberikan klien pengaruh nyata dan saran yang membantunya mengatasi masalah yang dihadapinya.bibliocounseling

Teknik menggunakan buku sebagai treatment didefinisikan sebagai  bibliotherapy. Bibliotherapy telah  dikenal  dengan  banyak  nama,  misalnya  biblocounseling,  biblioeducation,  bibliopsychology, library  therapeutic,  biblioprophylaxis,  tutorial  group  therapy,  dan  literatherapy  (Rubin,  1978). Webster  (1981)  mendefinisikan  bibliotherapy  sebagai  “guidance  in  the  solution  of  personal problems through directed reading.” Berry (1978) mendefinisikan bibliotherapy sebagai a family of techniques for structuring an interaction between a facilitator and a participant…based on mutual sharing of literature”. Lebih dari beberapa tahun lalu bibliotherapy telah digunakan oleh berbagai profesional pemberi  bantuan seperti  konselor, psikolog, psikiater, dan pendidik.  Kemudian para pekerja sosial juga mulai  menggunakan bibliotherapy dalam  praktek  klinis.  (Pardeck &  Pardeck, 1987). Dictionary of Social Work karangan Barker (1987) mengemukakan definisi komprehensif dari bilbiotherapy, yaitu:

The use of literature and poetry in the treatment of people with emotional problems or mental illness. Bibliotherapy is often used in social group works and group therapy and is reported  to  be  effective  with  people  of  all  ages,  with  people  in  institutions  as  well  as outpatients, and with healthy people who wish to share literature as a means of personal growth and development.” (h.15)

Artinya, bibliotherapy adalah penggunaan literatur dan puisi dalam teratment bagi orang‐orang yang mengalami  masalah  emosional  atau  sakit  mental.  Bibliotherapy  sering  digunakan  dalam  kerja kelompok  sosial  dan  terapi  kelompok  dan  dilaporkan  efektif  bagi  semua  orang  dari  berbagai kelompok usia, baik bagi pasien rawat inap maupun rawat jalan, juga efektif bagi orang‐orang sehat yang ingin berbagi literatur yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

Rubin (1978) mencatat bahwa sebagian besar profesional yang menggunakan bibliotherapy dalam praktik memiliki persiapan minimal untuk menggunakan teknik yang menggugah rasa ingin tahu ini. Pardeck  &  Pardeck  (1987)  menyimpulkan  bahwa  pekerja  sosial  paling  sedikit  menggunakan bibliotherapy dalam praktik, dan sedikit yang memiliki pelatihan klinis formal dalam penggunaan buku dalam treatment sosial.

Baruth & Burggraf (1984), Griffin (1984), dan Pardeck & Pardeck (1984) mengusulkan bahwa tujuan utama  bibliotherapy  adalah: a) memberikan informasi tentang masalah, b) memberikan insight tentang masalah, c) menstimulasi diskusi tentang masalah, d) mengkomunikasikan nilai‐nilai dan sikap‐sikap baru, e) menciptakan suatu kesadaran (awareness) bahwa orang lain berhasil mengatasi masalah yang mirip, dan f) memberikan solusi atas permasalahan. Baca lebih lanjut

MODEL KONSELING “REALITY (REALITAS)”



Konseling realitas merupakan model konseling yang termasuk kelompok konseling cognitive-behavioral (perilaku-kognitif). Fokus terapi konseling realitas adalah problema kehidupan yang dirasakan oleh klien saat ini, dan dilaksanakan melalui interaksi aktif antara konselor dan klien. Dalam hal ini konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan klien memberi jawaban sebagai respons terhadap pertanyaan konselor. Berkenaan dengan hal tersebut maka keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh konselor realitas.

Tokoh utama model konseling realitas adalah seorang psikiater, yaitu Dr.William Glaser dengan dasar teorinya adalah “teori pilihan” untuk memenuhu atau memuaskan kebutuhan dasar manusia yang bersifat universal secara bertanggungjawab. Teori ini meupakan pengembangan dari “teori Pengendalian”. Ide dasarnya adalah bahwa terlepas dari apa yang telah terjadi pada manusia, apa yang telah dikerjakan oleh manusia, dan bagaimana kebutuhan-kebutuhan manusia tidak terpenuhi atau dilanggar, manusia mampu mengevaluasi realitas terkini dan kemudian memilih perilaku untuk memenuhi kebutuhan secara efektif pada masa kini dan masa yang akan datang (manusia dapat memudarkan pengalaman masa lalu, dan kemudian memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan masa kini dengan perilaku yang bertanggungjawab).

Baca lebih lanjut

Konseling Eksistensial Humanistik (2)


Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.

Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai, dan kreativitas.

Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Menurut Maslow, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit”. Pendekatan ini melihat kejadian bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.

Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa.

Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada klien. Baca lebih lanjut

Perbandingan Filsafat Dasar, Konsep Utama, Tujuan Dan Hubungan Aliran-Aliran Konseling


1.   Filsafat Dasar Aliran Konseling

No. Aliran Konseling

Filsafat Dasar

1. TERAPI PSIKOANALITIK

Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini. Motif-motif dan konflik-konflik tak sadar adalah sentra dalam tingkah laku sekarang. Kekuatan-kekuatan irasional kuat; orang didorong oleh dorongan-dorongan seksual dan agresif. Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

2. TERAPI EKSISTENSIAL-HUMANISTIK

Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan bertanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendirian dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualisasi diri.

3. TERAPI CLIENT CENTERED

Memandang manusia secara positif, manusia memiliki suatu kecenderungan kearah menjadi berfungsi penuh. Dalam konteks hubungan konseling, konseli mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya diingkari. Konseli mengaktualkan potensi dan bergerak kearah peningkatan kesadaran, spontanitas kepercayaan kepada diri sendiri, dan keterarahan. Ada tiga struktur kepribadian: organism, self dan fenomenal field. Baca lebih lanjut