BIBLIOTHERAPY SEBAGAI METODE TREATMENT*)


Pengantar

bibliocounselingPenggunaan buku untuk tujuan treatment memperoleh perhatian khusus dan luas pasca Perang Dunia I dan II. Dengan banyaknya tentara yang kembali dari perang dengan gangguan atau simtom pasca trauma, bibliotherapy dipandang sebagai treatment yang efektif dari sisi biaya. Sejak itulah penggunaan bibliotherapy meluas dan saat ini digunakan dalam profesi “membantu”, pada setiap kelompok usia pada berbagai populasi. Bibliotherapy digunakan oleh konselor sekolah (Gladding, 2005), pkerja sosial (Pardeck, 1998), perawat kesehatan mental (Frankas & Yorker, 1993), guru (Kramer & Smith, 1998), dan pustakawan (Bernstein, 1989).

Bibliotherapy  digunakan  untuk  mengatasi  berbagai  isu  dan  permasalahan.  Banyak  yang menggunakan  buku  dalam  program  pendidikan  karakter  (Kilpatrick,  Wolfe,  &  Wolfe,  1994), sedangkan  yang  lain  menggunakan  untuk  kesulitan  yang  lebih  spesifik,  seperti  kematian  dan keadaan menjelang kematian (Todahl, Smith,Barnes, & Pereira, 1998), dan perceraian (Kramer & Smith, 1998).

Istilah bibliotherapy terbentuk dari dua kata: biblio, berasal dari bahasa Yunani, biblus (buku), dan therapy, menunjuk pada bantuan psikologis. Secara sederhana, bibliotherapy didefinisikan sebagai penggunaan buku untuk membantu orang mengatasi masalahnya.

Pada artikel sebelumnya telah dikemukakan beberapa definisi bibliotherapy, yaitu dari Webster, Berry, dan Baker. Meskipun definisi dari Baker (1987) lebih klinis dan komprehensif, namun seluruh definisi di atas memiliki satu kesamaan, yaitu bahwa bibliotherapy memerlukan beberapa bentuk kegiatan membaca.  Akan  tetapi  tidak  semuanya  menyetujui  bahwa  bacaannya  harus  fiksi  atau  nonfiksi (Pardeck, 1998), dan terdapat pemisah yang jelas diantara terapis mengenai jumlah terapi yang dibutuhkan dan keterlibatan terapis. Jumlah terapis berada pada suatu kontinum, dari buku bantu diri (self‐help) di satu sisi, dimana buku merupakan agen terapeutik dan keterlibatan terapis dalam kadar minimal, dengan buku yang disajikan sebagai alat bantu di sisi lain dan keterlibatan terapis dalam kadar yang sangat penting. Perbedaan jumlah terapis dalam treatment bibliotherapy paling besar dipengaruhi oleh orientasi teoritis terapis. Perbedaan orientasi teoritis ini bertanggung jawab atas terbentuknya dua area utama bibliotherapy yaitu “kognitif” dan “afektif”.

Terapis kognitif mempersepsikan proses belajar sebagai mekanisme utama dari perubahan, dan material tertulis nonfiksi untuk mendidik individu dipilih sebagai bentuk treatment. Material tertulis tersebut bisa berupa program tertulis, bahkan program terkomputerisasi, asalkan bisa membimbing individu untuk meningkatkan fungsi mereka dan mengatasi masalah mereka. (Tallman & Bohart, 1999),  dan  biasanya  diadministrasikan  sebagai  terapi  bantu  diri  (self‐help  therapy),  tanpa  atau dengan sedikit kontak terapis.

Sedangkan  bibliotherapy  afektif berasal dari teori psikodinamika yang dikemukakan oleh Freud.  Bibliotherapy afektif menunjuk pada penggunaan material tertulis untuk membuka pikiran, perasaan, dan pengalaman yang direpres. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa saat karakter (tokoh) mengatasi  masalah,  pembaca  secara  emosional  terlibat  dalam  perjuangan  dan  pada  akhirnya mencapai insight bagi situasi dirinya sendiri (Shrodes, 1957). Penekanan yang kuat diletakkan pada peningkatan respon emosional melalui identifikasi dengan pengalaman yang dialami tokoh/figur yang ada dalam bacaan. Agar proses identifikasi tersebut terjadi, diperlukan bacaan fiksi, sehingga bisa mencerminkan dilema seseorang dan membantunya terhubung dengan emosi dan rasa sakit dalam kadar ketakutan yang minimal (Gersie, 1997; Gladding, 2005). Literatur berkualitas tinggi merupakan  hal yang sangat penting,  sebaliknya  novel berkualitas rendah dengan karakter yang stereotipik dan jawaban sederhana terhadap masalah kompleks merupakan buku yang buruk dan tidak  boleh  digunakan.  Karena  bibliotherapy  afektif  berkaitan  dengan  emosi  dan  pengalaman mendalam, maka tidak dapat digunakan sebagai treatment bantu diri (self‐help treatment) dan sangat membutuhkan keterlibatan terapis.

Secara ringkas, perbandingan bibliotherapy kognitif dan afektif adalah:

Aspek Perbandingan Bibliotherapy Kognitif Bibliotherapy Afektif
Mekanisme utama perubahan Proses belajar Psikodinamika (dari Freud)

 

Bentuk material treatment Bacaan nonfiksi yang bisa meningkatkan fungsi dan mengatasi masalah individu

 

Bacaan fiksi berkualitas tinggi

 

Teknik pengadministrasian Bantu diri (self‐help), tanpa atau dengan sedikit bantuan terapis

 

Sangat membutuhkan keterlibatan terapis, tidak dapat digunakan sebagai treatment bantu diri (self‐help)

 

Bibliotherapy Kognitif

Tidaklah mengherankan jika pada masa sekarang bibliotherapy kognitif mendapatkan perhatian yang sangat besar. Cognitive behavioral therapy mendominasi lapangan psikologi karena menghasilkan data yang lebih empirik, yang menjadikannya sebagai terapi berbasis bukti (Norcross, Beutler, & Levant, 2006).

Bibliotherapy kognitif merupakan praktik lama yang dimulai pada awal abad 20, yang melibatkan kerjasama psikiater dan pustakawan dalam upaya membantu klien mengatasi masalah psikologis.

Mereka menawarkan buku yang sesuai dengan kesulitan khas dari individu dengan asumsi bahwa orang‐orang ini akan belajar dari proses membaca buku tersebut dan menerapkannya terhadap kehidupan  mereka  sendiri.  Bibiotherapy  kognitif  dapat  digunakan  sebagai  treatment  tunggal maupun bersamaan dengan pengobatan (medikasi); bisa berbentuk bantu diri seutuhnya atau diikuti dengan pertemuan untuk mendiskusikan buku. Namun, fokus utama adalah pada isi yang disajikan dalam buku dan relevansinya terhadap masalah/kesulitan individu.

Asumsi yang mendasari cognitive‐behavioral therapy adalah bahwa semua perilaku merupakan hasil belajar sehingga dapat dipelajari kembali dengan bimbingan yang tepat. Teori ini bersandar pada pandangan  bahwa  belajar  merupakan  katalis  utama  dari  perubahan  perilaku.  Sejalan  dengan pandangan tersbeut, maka bibliotherapy kognitif merupakan sebuah proses belajar dari material tertulis berkualitas tinggi (tidak harus literatur) untuk memperoleh manfaat terapeutik (Glasgow & Rosen, 1978). Pandangan ini dianggap sebagai bentuk intervensi berorientasi pendidikan, dimana penguasaan  informasi  dan  perolehan  keterampilan  merupakan  tujuan  utama.  Pada  prinsipnya, bibiotherapy kognitif merupakan intervensi bantu diri dengan karakteristik utamanya adalah tanpa atau sedikit keterlibatan terapis. Treatment ini bisa berupa intervensi tanpa kontak (nocontact intervention),  yang  mencerminkan  apa  yang  terjadi  dalam  dunia  nyata  pembaca, atau  berupa intervensi dengan kontak minimal yang melibatkan pembicaraan di telepon atau kunjungan sesekali ke klinik, dengan pemahaman bahwa tugas terapeutik utama harus dilakukan oleh partisipan itu sendiri  (Glasgow  &  Rosen,  1978).  Ada  ribuan  buku  bantu  diri  dan  banyak  konsumen menggunakannya, namun tidak setiap buku bantu diri dapat dijadikan/dipertimbangkan sebagai bibliotherapy.  Hanya  buku  yang  mengandung  program  atau  treatment  spesifik  yang  dapat dipertimbangkan sebagai material bibliotherapy (Mc Kendree‐Smith, Floyd, & Scogin, 2003).

Keterbatasan Bibliotherapy Kognitif

Treatment “mengarahkan diri sendiri” (self‐directed treatment) lebih menekankan tanggungjawab pada klien. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan material tertulis dan bekerja mandiri sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa klien‐klien yang kurang terdidik tidak melanjutkan proses treatment dan sebaliknya (Scogin, Hamblin, & Beutler, 1989). Selain itu, individu dengan gaya coping (mengatasi masalah) eksternal (externalizing style of coping) menunjukkan hasil buruk dalam selfdirected  treatment  (Beutler  dkk,  1991).  Metode  ini  juga  tidak  sesuai  digunakan  bagi  individu dengan masalah interpersonal yang luas (ekstensif), penghindaran emosional, dan simtomatologi (Main & Scogin, 2003). Motivasi merupakan faktor kunci lain bagi keberhasilan treatment dengan buku bantu diri. Individu harus benar‐benar memiliki keinginan untuk mengatasi kesulitan, kebiasaan jangka panjang, dan godaan agar material tertulis yang diajarkan bermanfaat.

Kesulitan lain dari bibliotherapy kognitif adalah bahwa pemahaman material tertulis membutuhkan kematangan  intelektual  dan  emosional,  dan  bisa  saja  terjadi  distorsi/penyimpangan  persepsi.

Tingkat  kesulitan  bacaan  juga  bisa  menjadi  masalah.  Oleh  karena  itu,  Mains  &  Scogin  (2003) merekomendasikan bahwa bibliotherapy kognitif tipe bantu diri paling baik dinilai sebagai “tahap pertama” dalam syarat layanan kesehatan mental.

Kritik lain terhadap bibliotherapy bantu diri adalah tentang kualitas buku. Menurut Rosen (1981) banyak  buku  yang  kurang  valid,  bahkan  membahayakan.  Kita  tidak  tahu  bagaimana  pembaca dipengaruhi oleh buku tertentu, apakah secara positif, negatif, atau tanpa perubahan. Kita juga tidak tahu buku mana yang efektif dan mana yang tidak.

bibliocounseling5Karena  keterbatasan‐keterbatasan  itulah,  sebagian  besar  terapis  lebih  menyukai  bentuk‐bentuk kontak tertentu dengan klien, terutama dengan anak‐anak. Tentu saja, sangat sedikit bibliotherapy kognitif bantu diri yang digunakan untuk anak dan remaja. Sebaliknya, sebagian besar bibliotherapy kognitif  yang  relevan  bagi  anak  lebih  ditujukan  untuk  melatih  orangtua  anak  yang  bermasalah tersebut  dibandingkan  dengan  langsung  kepada  si  anak  (Webster‐Stratton,  Hollinsworth,  & Kolpacoff, 1989). Hal ini dapat dipahami. Anak belum memiliki kemampuan kognitif dan emosional untuk  belajar  sendiri  dari  kegiatan  membaca.  Seringkali  mereka  tidak  memiliki  motivasi  untuk berubah,  dan  belum  cukup  mengembangkan  ego  yang  membantunya  mengendalikan  perilaku.

Dibutuhkan monitoring dari terapis untuk membantu mereka memahami material bacaan. Oleh karena itu, sangat direkomendasikan agar bibliotherapy bagi anak dan remaja digunakan sebagai treatment tambahan bagi treatment yang dilakukan oleh terapis, bukan menggantikan. (Elgar & McGrath, 2003; Gladding, 2005; Holman, 1996).

Bibliotherapy Afektif

Sebagian besar literatur yang ada tentang bibliotherapy pada anak merupakan bibliotherapy afektif (Gladding, 2005). Bibliotherapy afektif menggunakan fiksi dan literatur berkualitas tinggi lainnya untuk  membantu  pembaca  berhubungan  dengan  pengalaman  emosional  dan  situasi  manusia melalui  proses  identifikasi.  Berlawanan  dengan  bibliotherapy  kognitif,  bibliotherapy  afektif mendasarkan pada teori psikodinamika, yang berasal dari Sigmund dan Anna Freud. Asumsi dasar dari bibliotherapy afektif adalah bahwa orang menggunakan defense mechanism, seperti represi, untuk melindungi dirinya dari rasa sakit. jika defense tersebut sering digunakan, individu menjadi terputus  (disconnected)  dari  emosi  mereka,  tidak  menyadari  perasaan  yang  sebenarnya,  dan karenanya tidak mampu mengatasi masalahnya secara konstruktif. Cerita sangat membantu dalam menawarkan  insight  terhadap  masalah  pribadi  (Forgan,  2002)  melalui  penciptaan  jarak  aman, membawa anak dan remaja secara tidak langsung ke ujung isu‐isu sensitif, isu yang mengancam dan mungkin terlalu menyakitkan jika dihadapi secara langsung (Corr, 2003/4).

Asumsi lain yang mendasari bibliotherapy afektif adalah bahwa identifikasi, eksplorasi, dan refleksi terhadap emosi merupakan komponen penting dari proses terapeutik (Greenberg, 2002; Hill, 2005).

Melalui identifikasi terhadap karakter bacaan, individu dihadapkan pada suatu rentang panjang dari emosi, yang bisa mereka kenali ada dalam diri mereka sendiri, sehingga menghubungkan mereka terhadap dunia emosional diri mereka sendiri. Pengalaman ditingkatkan melalui kekayaan kehidupan manusia, karakter, situasi, dan masalah yang ada dalam literatur.

Literatur berkualitas tinggi menyajikan rentang yang lebar tentang pikiran dan perasaan manusia dimana pembaca dapat mengidentifikasikan dirinya dengan, belajar dari, dan menerapkan pada kehidupan mereka sendiri. Literatur seperti itu melampaui cerita fiksi. Sebagai contoh, sebuah puisi yang  bagus  mengekspresikan  insight  psikologis  yang  halus  dan  tampak  jelas  tentang  situasi kehidupan dimana klien dapat mempersonalisasikannya dengan kehidupan mereka sendiri. Serupa dengan hal ini, film‐film menampilkan situasi, dilema, dan konflik psikologis yang membuat klien dapat dengan mudah mengidentifikasikan diri dengannya.

Keuntungan Bibliotherapy Afektif

Pengetahuan diri yang tepat dan pemahaman yang lebih besar tentang dunia dapat memunculkan interaksi  berikut  dengan  literatur.  Klien  menyadari  bahwa  masalahnya  universal  sekaligus  unik.

Mereka belajar bahwa mereka berbagi hubungan (connectedness) dengan banyak orang dan budaya berbeda, yang  memberikan kenyamanan dan  melegitimasi (mengesahkan)  perasaan dan pikiran

mereka (Gladding, 2005). Mendengarkan atau membaca cerita mengarahkan pada kebutuhan dasar manusia untuk menemukan kebenaran, memahami, dan menemukan penjelasan atas pengalaman rasa sakit (painful), bahkan menghadapi tantangan ketidakadilan.

Dalam prosesnya, pembaca atau pendengar diyakini melewati tiga tahap: identifikasi diri dengan karakterdan  kejadian  dalam  cerita;  katarsis,dimana  pembaca  menjadi  terlibat  secara  emosional dalam cerita dan mampu meredakan emosi di bawah kondisi yang aman; dan insight yang dihasilkan dari  pengalaman  katartik,  dimana  pembaca  menjadi  lebih  sadar  akan  masalah  mereka  dan kemungkinan pemecahan masalahnya. Saat orang membaca atau mendengarkan sebuah cerita atau puisi atau mengamati film yang menggambarkan hambatan, kelemahan, dan kekuatannya, mereka cenderung  untuk  mengidentifikasi  diri  dengan  pengalaman,  penderitaan,  dan  rasa  sakit,  serta kegembiraan si karakter (tokoh). Melalui proses identifikasi ini, individu membagi perasaan dan

konflik dengan karakter dan mengalami katarsis. Cerita‐cerita seperti ini meningkatkan pemahaman terhadap  situasi  manusia  dan  meningkatkan  empati  atas  penderitaan  orang  lain,  yang  bisa membantu individu memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.

Bibliotherapy  afektif  dapat  menjadi  sebuah  pengalaman  emosional  yang  bersifat  korektif; pengalaman  demikian  diperlukan  oleh  orang  yang  tidak  memiliki  cukup  pengalaman  emosional positif  dalam  kehidupannya  atau  orang  yang  menderita  akibat  kejadian  tragis.  Terutama  dalam situasi krisis, orang menjadi begitu terlibat dalam rasa sakit mereka dimana mereka tidak melihat pemecahan masalah bagi situasi tersebut. Literatur memberikan suatu konteks sehingga orang bisa mengambil  jarak  untuk  mengeksplor  rasa  sakit  itu  (Gersie,  1997).  Mengambil  jarak  dalam mengamati lingkungan dapat membantu individu dalam menghadapi situasi yang kompleks tanpa terlalu banyak defense, menumbuhkan pemahaman dan insight. Bibliotherapy afektif ini tidak hanya merupakan sebuah pemahaman kognitif, namun lebih sebagai  pengalaman yang didasarkan pada proses komunikasi internal dan menyentuh pengalaman‐pengalaman yang direpres.

Jarak dari masalah individu yang diciptakan oleh literatur juga memelihara pemikiran konstruktif dan menjadi dasar dari pemecahan masalah yang kreatif. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa cerita legenda dan dongeng menjadi material yang baik untuk membantu anak . menurut Bettelheim (1977), jarak yang ekstrem dari realitas menjadikannya sebagai wilayah aman untuk mengeksplor perasaan seseorang.

Peran Penting  Terapis

bibliotherapy4Proses identifikasi terhadap karakter bacaan, yang diikuti dengan pengalaman katarsis, insight, dan tindakan bisa terjadi dalam kehidupan sehari‐hari tanpa terapi. Bennet (1998) menyatakan ada dua hal baik yang diberikan oleh cerita yaitu kode kejujuran dan contoh yang baik. Buku memberikan kesempatan untuk membuat keputusan dan perbandingan moral, dan membantu anak memilah antara benar dan salah. Buku juga memberikan model untuk identifikasi. Identifikasi dengan model yang positif merupakan tahap penting dalam perkembangan anak.

Namun, karena prosesnya tidak hanya berkaitan dengan belajar kognitif, melainkan lebih untuk membuka material‐material yang direpres dan tidak disadari, maka kehadiran terapis menjadi sangat penting. Kompleksitas tak terbatas yang merupakan kelebihan dari bibliotherapy afektif bisa jadi  berlebihan, mengancam, dan memprovokasi terjadinya kecemasan (anxiety). Selian itu, buku juga bisa menjadi model dari perilaku yang tidak diinginkan. Akhirnya, informasi yang diberikan kepada pembaca juga bisa jadi disalahartikan, disalahinterpretasikan, dan bahkan menyimpang, terutama saat anak dan remaja serta populasi beresiko tinggi terlibat.

Sebagai contoh, kita membacakan puisi kepada kelompok anak yang menderita karena kehilangan. Dalam puisi ini, karakter dihadapkan pada dilema antara harus gembira dengan situasi dimana anak diharapkan berduka cita. Anak merasa malu dan bersalah karena melupakan ayahnya. Beberapa anak mungkin menidentifikasi diri dengan karakter dan menyimpulkan bahwa dirinya seharusnya tidak melupakan dan tidak pernah bahagia. Tentu saja bukan hal seperti ini yang kita harapkan. Kita berharap bahwa pada tahap awal kedukacitaan, orang merasa bahwa dirinya tidak akan pernah mampu kembali ke kehidupan normal. Hal ini merupakan perasaan yang normal yang akan pudar seiring dengan berjalannya waktu. Kita juga berharap mereka akan tahu bahwa sesekali merasa bahagia bukanlah sebuah kesalahan, dan merasakan kegembiraan bukan  berarti bahwa mereka melupakan orang yang dicintai. Selain itu, jika orangtua si anak meninggal, kita ingin mengatakan kepada si anak bahwa orangtuanya ingin melihat anaknya gembira. Kita juga ingin mengklarifikasi kepada anak bahwa orang‐orang di sekitarnya tidak menginginkan si anak terus menerus berduka cita, bahkan jika orang menuntut anak untuk terus berduka cita, anak bisa menolaknya.

Inilah  peran  terapis  untuk  menumbuhkan  proses  identifikasi,  meredakan  emosi  dan mengekspresikannya, serta membantu klien mendiskusikan dan memahami emosi‐emosi ini dengan cara yang tidak menghakimi. Penerimaan sikap terhadap figure bacaan memberikan pesan penting bagi klien bahwa emosi diterima dan dipahami. Hal inilah yang merupakan terapeutik, yang pada saat bersamaan melegitimasi perasaan klien. Bila diskusi menjadi lebih personal (pribadi), terapis juga mengirimkan pesan langsung tentang penerimaan terhadap klien. Proses ini membawa pada pengalaman  emosional  yang  korektif,  yang  memungkinkan  terjadinya  pengalaman  katartik  dan refleksi dari pengalaman tersebut.

Intervensi terapis dalam interaksi antara partisipan dengan literatur sangat penting terutama bila bekerja dengan anak dan remaja. Sebagaimana dalam terapi lain, konselor bertanggung jawab atas iklim yang aman dari proses bibliotherapy, dan harus yakin bahwa literatur benar‐benar dipahami dan  tidak  menyimpang  melalui  pengalaman  pribadi  pembaca  berusia  muda.  Terapis  juga  harus mempertahankan  rasa  ingin  tahu  pembaca  terhadap  kompleksitas  kehidupan  dan  mendorong partisipan untuk mengatasi dan menantang kejadian‐kejadian dalam kehidupan. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan untuk menggunakan bibliotherapy sebagai terapi tambahan, dimana ada tiga hubungan yang dijalin yaitu antara literatur, partisipan, dan konselor. Jarak yang diciptakan oleh literatur antara klien dan masalahnya membantu terapis untuk membimbing anak mengatasi isu‐isu yang menyulitkan dengan lebih aman, kurang defensif dan resisten.

Tahapan Pelaksanaan Bibliotherapy

Proses  bibliotherapeutic  meliputi  suatu  seri  aktivitas  yang  berbeda  yang  sangat  penting  bagi penggunaan buku dalam treatment. Proses ini mencakup kesiapan klien dan seleksi buku, kegiatan klien  membaca  buku,  serta  aktivitas  tindak  lanjut.  Seluruh  aktivitas  ini  ditujukan  untuk menggerakkan klien agar melalui tahapan‐tahapan dalam proses bibliotherapeutik yaitu identifikasi dan proyeksi, katarsis, dan insight.bibliotherapy1

 

Kesiapan

Sebelum melaksanakan treatment bibliotherapy, terapis atau orang yang membantu pelaksanaan treatment harus mempertimbangkan faktor penting yaitu kesiapan anak.  Pemilihan  waktu yang tidak tepat akan menghambat proses. Pada umumnya, anak paling siap memulai bibliotherapy bila telah memiliki syarat‐syarat berikut: (Zaccaria & Moses, 1968)

a)  Rapport yang memadai, kepercayaan, dan keyakinan telah ditanamkan oleh terapis kepada anak.

b)  Jika klien merupakan anak yang lebih tua, anak dan terapis telah membuat kesepakatan tentang

masalah yang akan ditreatment,

c)  Telah dilakukan eksplorasi awal dari permasalahan

Seleksi Buku

bibliocounseling7Terapis  harus  mempertimbangkan  beberapa  faktor  saat  memilih  buku  untuk  treatment.  Faktor terpenting adalah  masalah yang  terjadi  pada anak.  Anak mungkin memiliki sedikit atau  banyak penyesuaian dan masalah perkembangan. Walaupun tersedia banyak buku untuk berbagai masalah, namun tetap sangat penting untuk diperhatikan bahwa  bila menggunakan fiksi, buku tersebut harus berisi karakter dan situasi yang dapat dipercaya yang memberikan harapan realistik bagi anak.

Terapis juga harus mengetahui minat dan tingkat kemampuan membaca anak. Elemen penting lain dari buku adalah bentuk publikasi. Bentuk‐bentuk alternatif seperti braille, buku bicara (kaset), dan buku berukuran besar tersedia untuk anak‐anak berkebutuhan khusus. Terapis juga diharapkan menggunakan edisi bersampul tipis sehingga lebih enak digunakan oleh anak (Fader & McNeil, 1968).

Memperkenalkan Buku

Jika anak telah siap mengikuti proses bibliotherapy dan telah dilakukan pemilihan buku, maka yang perlu diperhatikan terapis adalah bagaimana memasukkan buku ke dalam treatment. Sebagian besar orang dari profesi “membantu” menganggap bahwa yang terbaik adalah menganjurkan menentukan buku jika bekerja dengan anak berusia lebih tua; namun sebaliknya jika berhadapan dengan anak yang lebih muda. Apapun strategi yang digunakan untuk memperkenalkan buku dalam treatment, terapis harus benar‐benar mengenal baik isi dari buku yang dipilih.

Strategi Tindak Lanjut

Zaccaria & Moses (1968) menyimpulkan bahwa terdapat kesepakatan antara berbagai studi tentang bibliotherapy yaitu bahwa kegiatan membaca buku harus disertai dengan diskusi dan/atau konseling.

Selama  dan  setelah  membaca  buku,  anak  mungkin  mengalami  tiga  tahapan  dari  proses bibliotherapeutik.  Dalam  kondisi  terapeutik  tradisional,  anak  berusia  lebih  muda  tidak  mampu mengalami  katarsis  yang  membawa  pada  insight  terhadap  masalah.  Namun,  bibliotherapy memungkinkan anak berusia lebih muda untuk melihat solusi masalah tanpa verbalisasi mendalam, konfrontasi, dan interpretasi – strategi yang seringkali sangat penting untuk keberhasilan treatment.

Dengan  bimbingan dari terapis, anak terbantu untuk mengidentifikasikan diri dengan karakter buku yang memiliki masalah yang mirip dengan masalah dirinya. Melalui proses ini, anak mulai melihat bagaimana karakter dalam buku ini mengatasi masalahnya dan kemudian mengenali pemecahannya (Pardeck, 1990). Bagi anak berusia lebih tua, tahap lebih jauh dari proses bibliotherapeutik mungkin untuk dicapai dengan bantuan dari terapis (Pardeck & Pardeck, 1984).

Berikut ini adalah aktivitas yang dapat digunakan oleh terapis/orang yang “membantu” setelah buku dibaca. Strategi tindak lanjut ini sesuai untuk sebagian besar anak. Beberapa aktivitas tindak lanjut membutuhkan setting kelompok kecil. Terapis dapat menggunakan satu atau beberapa aktivitas. Strategi mencakup menulis kreatif, aktivitas seni, diskusi, dan bermain peran (Pardeck & Pardeck, 1984)

 

Menulis Kreatif

Setelah membaca buku, anak mengerjakan hal‐hal berikut:

1.  Mengembangkan sinopsis buku, menggunakan sudut pandang karakter lain yang tidak sama dengan karakter dalam buku.

2.  Membuat  jadual  harian  untuk  karakter  yang  menjadi  identifikasi  diri  anak,  kemudian membandingkannya dengan jadual anak sendiri.

3.  Menyusun sebuah diary untuk karakter dalam cerita.

4.  Menulis surat dari satu karakter dalam buku untuk karakter lain, atau dari anak kepada karakter dalam buku.

5.  Membuat  ending  yang  berbeda  atau  berhenti  membaca  sebelum  bab  terakhir  dan menciptakan ending sendiri.

6.  Menyusun  surat  yang  dianggap  mungkin  dituliskan  oleh  karakter  dalam  buku  tentang sebuah situasi masalah.

7.  Membuat berita tentang sebuah kejadian dalam buku.

Aktivitas Seni

Strategi seni sesuai bagi anak yang senang dengan aktivitas artistik. Setelah membaca buku, anak diarahkan untuk mengikuti aktivitas berikut:

1.  Membuat peta yang menggambarkan kejadian‐kejadian dalam cerita dengan menggunakan imajinasi anak yang berbeda dengan yang ada dalam buku.

2.  Membuat wayang atau model lilin (clay) dari karakter cerita.

3.  Merekat  gambar  dan  atau  menggunting  dari  majalah  untuk  menciptakan  kolase  yang menggambarkan kejadian dalam cerita

4.  Membuat gambar sekuens (berurutan) dari kejadian penting dalam buku.

5.  Membuat sebuah mobil yang mewakili kejadian kunci atau karakter dalam buku, dengan menggunakan gambar yang dibuat sendiri oleh anak atau diambil dari majalah.

Diskusi dan Bermain Peran

Terapis meminta anak untuk:

1.  Berpartisipasi dalam meja bundar untuk memutuskan satu karakter dalam buku yang akan dibahas.

2.  Memainkan  peran  sebuah  kejadian  dalam  cerita,  dengan  partisipan  memainkan  peran karakter kunci.

3.  Memainkan peran pengadilan pura‐pura berkaitan dengan kejadian dalamcerita, dimana klien  memainkan peran sebagai  terdakwa, pengacara, hakim, juri, dan saksi.

4.  Mendiskusikan titik kekuatan dan kelemahan karakter yang menjadi identifikasi diri anak. Tentu saja orang yang membantu harus benar‐benar mempertimbangkan tingkat kematangan dan kesukaan anak saat memilih aktivitas tindak lanjut. Terapis dapat mengadaptasi aktivitas agar sesuai dengan anak; sebagai contoh, anak yang tidak suka menulis dapat menggunakan tape recorder untuk  aktivitas  menulis  kreatif.  Tergantung  pada  masalah  anak  dan  tipe  buku  yang  digunakan, terapis dapat menyarankan beberapa aktivitas tindak lanjut yang dapat dipilih oleh anak.

*) Terjemahan bebas dari buku Treating Child And Adolescent Aggression Through Bibliotherapy, karangan Zipora Shechtman, 2009, New York: Springer Science + Business Media

Baca Juga:

BIBLIOTHERAPY: Definisi, Sejarah dan Tujuan*)

Membaca Efektif

Teknik-Teknik Konseling

Cybercounseling Sebagai Alternatif Pengembangan Komunikasi Konseling Individual

Innovasi Pendekatan/Layanan Konseling

About these ads

2 gagasan untuk “BIBLIOTHERAPY SEBAGAI METODE TREATMENT*)

  1. Ping-balik: BIBLIOTHERAPY: Definisi, Sejarah dan Tujuan*) | himCayoo!

  2. Ping-balik: Konseling Kelompok yang Efektif*) | himCayoo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s