BIBLIOTHERAPY: Definisi, Sejarah dan Tujuan*)


Pengantar – definisi dan tujuan

Selama berabad‐abad buku telah menjadi “terapis bisu” bagi begitu banyak orang. Melalui buku, pembaca dapat sepenuhnya memasuki peran baru; mereka seolah‐olah mengalami sendiri contoh‐ contoh kehidupan dan gaya hidup. Fiksi yang baik dapat memberikan klien model‐model yang dapat  membantunya mengatasi masalah yang dihadapinya. Nonfiksi yang bermutu, terutama buku‐buku bantu diri (self‐help book) dapat memberikan klien pengaruh nyata dan saran yang membantunya mengatasi masalah yang dihadapinya.bibliocounseling

Teknik menggunakan buku sebagai treatment didefinisikan sebagai  bibliotherapy. Bibliotherapy telah  dikenal  dengan  banyak  nama,  misalnya  biblocounseling,  biblioeducation,  bibliopsychology, library  therapeutic,  biblioprophylaxis,  tutorial  group  therapy,  dan  literatherapy  (Rubin,  1978). Webster  (1981)  mendefinisikan  bibliotherapy  sebagai  “guidance  in  the  solution  of  personal problems through directed reading.” Berry (1978) mendefinisikan bibliotherapy sebagai a family of techniques for structuring an interaction between a facilitator and a participant…based on mutual sharing of literature”. Lebih dari beberapa tahun lalu bibliotherapy telah digunakan oleh berbagai profesional pemberi  bantuan seperti  konselor, psikolog, psikiater, dan pendidik.  Kemudian para pekerja sosial juga mulai  menggunakan bibliotherapy dalam  praktek  klinis.  (Pardeck &  Pardeck, 1987). Dictionary of Social Work karangan Barker (1987) mengemukakan definisi komprehensif dari bilbiotherapy, yaitu:

The use of literature and poetry in the treatment of people with emotional problems or mental illness. Bibliotherapy is often used in social group works and group therapy and is reported  to  be  effective  with  people  of  all  ages,  with  people  in  institutions  as  well  as outpatients, and with healthy people who wish to share literature as a means of personal growth and development.” (h.15)

Artinya, bibliotherapy adalah penggunaan literatur dan puisi dalam teratment bagi orang‐orang yang mengalami  masalah  emosional  atau  sakit  mental.  Bibliotherapy  sering  digunakan  dalam  kerja kelompok  sosial  dan  terapi  kelompok  dan  dilaporkan  efektif  bagi  semua  orang  dari  berbagai kelompok usia, baik bagi pasien rawat inap maupun rawat jalan, juga efektif bagi orang‐orang sehat yang ingin berbagi literatur yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

Rubin (1978) mencatat bahwa sebagian besar profesional yang menggunakan bibliotherapy dalam praktik memiliki persiapan minimal untuk menggunakan teknik yang menggugah rasa ingin tahu ini. Pardeck  &  Pardeck  (1987)  menyimpulkan  bahwa  pekerja  sosial  paling  sedikit  menggunakan bibliotherapy dalam praktik, dan sedikit yang memiliki pelatihan klinis formal dalam penggunaan buku dalam treatment sosial.

Baruth & Burggraf (1984), Griffin (1984), dan Pardeck & Pardeck (1984) mengusulkan bahwa tujuan utama  bibliotherapy  adalah: a) memberikan informasi tentang masalah, b) memberikan insight tentang masalah, c) menstimulasi diskusi tentang masalah, d) mengkomunikasikan nilai‐nilai dan sikap‐sikap baru, e) menciptakan suatu kesadaran (awareness) bahwa orang lain berhasil mengatasi masalah yang mirip, dan f) memberikan solusi atas permasalahan.

Banyak informasi dapat diperoleh melalui kegiatan membaca bersama dan membaca buku yang ditugaskan. Bibliotherapy membuat seseorang dapat mempelajari fakta‐fakta baru, cara berbeda dalam memandang/mendekati masalah, dan pilihan cara memikirkan masalah (Griffin, 1984). Karena pengetahuan atau pengalaman pribadi sebagian besar klien tentang masalah yang mereka hadapi terbatas,  bibliotherapy  dapat  memberikan  insight  yang  bermanfaat  bagi  klien  untuk  mengatasi masalah‐masalah tersebut.

Pemahaman diri dan insight merupakan tujuan penting dari bibliotherapy (Baruth & Burggraf, 1984; Zaccaria & Moses, 1968). Saat terapis menggunakan fiksi dalam bibliotherapy, klien membaca tentang karakter (tokoh) yang menghadapi masalah yang mirip dengan masalah yang ia hadapi, lalu ia  mengidentifikasikan  dirinya  dengan  karakter  tersebut,  dan  dengan  demikian  ia  memperoleh kesadaran  dan  pemahaman  tentang  motivasi,  perasaan,  dan  pikirannya  (Griffin,  1984).  Dengan membaca  tentang  konflik‐konflik  yang  dialami  karakter,  kognisi,  dan  reaksi  emosionalnya,  klien memperoleh insight tentang suatu situasi masalah (Pardeck & Pardeck, 1983).

Bibliotherapy merupakan teknik yang sangat bagus untuk merangsang munculnya diskusi tentang suatu masalah yang mungkin tidak didiskusikan karena adanya rasa takut, bersalah, dan malu (Mc Kinney, 1997). Membaca tentang sebuah karakter dalam fiksi yang mengatasi masalah yang mirip dengan  masalah  yang  dihadapinya  menjadikan  klien  terbantu  mengungkapkan  secara  lisan perasaannya tentang masalah yang ia hadapi kepada terapis.

Bibliotherapy dapat membantu klien mengatasi dan mengubah masalah yang sedang dihadapinya manakala ia membaca tentang orang lain yang berhasil mengatasi masalah seperti yang ia hadapi. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki hambatan fisik dapat membaca tentang karakter yang berhasil mengatasi masalah yang berkaitan dengan hambatan fisiknya. Orang‐orang yang memiliki hambatan/kelemahan dapat belajar bahwa banyak orang yang berhasil mengatasi masalah yang sama,  sebelumnya  memiliki  kemiripan  tentang  perasaan  tidak  mampu  dan  gagal,  dan  belum menemukan  cara  untuk  berhasil  dan  mengembangkan  kesadaran  diri  tentang ketidakmampuan/hambatannya (Pardeck & Pardeck, 1984).

Sejarah Bibliotherapy

bibliotherapy2Selama berabad‐abad, buku telah digunakan sebagai sumberdaya untuk membantu orang mengatasi masalahnya. Sebagai contoh, pada masa Thebes **) kuno, perpustakaan digambarkan sebagai “The Healing Place of The Soul”, tempat penyembuhan jiwa. Masyarakat Thebes kuno menghargai buku sebagai  sebuah  sumber  untuk  meningkatkan  kualitas  kehidupan.  Schrank  dan  Engels  (1981) menyatakan bahwa praktik bibliotherapi dapat telusuri sampai masa Thebes kuno dan kemudian digunakan sebagai sumber bantuan untuk pengajaran dan penyembuhan.

Beberapa buku sekolah permulaan di Amerika seperti New England Primer dan Mc Guffy Readers digunakan  tidak  hanya  untuk  tujuan  mengajar  anak‐anak  namun  juga  membantu  mereka mengembangkan karakter dan nilai (value) positif, dan untuk meningkatkan penyesuaian pribadi (Spache, 1974). Para pendidik saat ini, termasuk banyak klinisi, menyadari bahwa dapat memainkan peran positif dalam membantu orang mengatasi masalah penyesuaian pribadi, termasuk masalah kehidupan sehari‐hari.

Bibliotherapy  baru  belakangan  ini  mendapat  pengakuan  sebagai  sebuah  pendekatan  treatment. Perkembangan ini terjadi pada sekitar awal abad 20. Dua orang pendukung awal bibliotherapy pada abad  20  adalah  Dr.  Karl  dan  Dr.  William  Menninger.  Sejumlah  artikel  muncul  dalam  literatur profesional pada tahun 1940‐an; artikel‐artikel ini seringkali memfokuskan pada validitas psikologis dari  teknik  treatmen  baru  ini  (biliotherapy)  (Bernstein,  1983).  Selama  tahun  1950‐an  beberapa pemikiran yang berkaitan dengan bibliotherapy dibuat oleh Shrodes (1949), yang menguji status seni ini  yang  sangat  mempengaruhi  pandangan  filosoif.  Definisi  awal  dari  Shrodes  (1949)  tentang bibliotherapy  “as  a  process  of  dynamic  interaction  between  the  personality  of  the  reader  and literature under the guidance of a trained helper” (proses dari intraksi dinamis antara kepribadian pembaca  dengan  literatur  yang  mendasari  bimbingan  dari  helper  terlatih)  terus  mempengaruhi lapangan ini pada masa sekarang. Pada masa kini, Pardeck dan Pardeck (1989) berpendapat bahwa bibliotherapy tidak harus merupakan proses yang perlu diarahkan oleh terapis terlatih. Sebagaimana kemudian dinyatakan dalam bukunya, bibliotherapy dapat dilakukan oleh individu yang tidak dilatih sebagai terapis. Sebagai  contoh, orangtua atau guru dapat  berhasil menggunakan bibliotherapy untuk  membantu  anak  mengatasi  masalah  yang  berhubungan  dengan  perkembangan  dan penyesuaian pribadi.

Pada  tahun  1960‐an,  Hannigan  dan  Henderson  (1963)  melakukan  penelitian  ekstensif  tentang dampak bibliotherapy terhadap kedekatan remaja penyalahguna obat‐obatan dengan pembebasan bersyarat.  Penelitian  mereka  terdiri  atas  beberapa  upaya  awal  untuk  menguji  keefektifan bibliotherapy sebagai alat treatment. Sejak tahun 1960‐an, telah dilakukan sejumlah studi tentang keefektifan bibliotherapy dalam membantu orang mengatasi masalah emosional dan penyesuaian.

Walaupun ditemukan bahwa bibliotherapy merupakan alat klinis yang efektif, namun kritik terhadap bibliotherapy terus meningkat (Craighead, Mc Namara, & Horan, 1984).

Siapa Yang Menggunakan Bibliotherapy

bibliotherapy1Pardeck & Pardeck (1987) melaporkan bahwa diantara profesional pemberi bantuan, yang paling sedikit menggunakan  bibliotherapy adalah pekerja sosial. Pardeck & Pardeck (1987) menyimpulkan bahwa konselor sekolah mengenal baik bibliotherapy, yang direfleksikan melalui karya‐karya yang dipublikasikan dalam dua jurnal utama konseling, yaitu School Counselor dan Elementary School Guidance and Counseling.

Studi tambahan menunjukkan bahwa bibliotherapy secara meluas digunakan oleh konselor, psikolog, psikiater, dan dokter medis. Atwater & Smith (1987) menemukan penggunaan intensif bibliotherapy oleh konselor. Smith & Burkhalter (1987) menemukan bahwa makin berpengalaman seorang terapis, makin banyak ia menggunakann bibliotherapy dalam praktiknya. Starker (1986) melaporkan bahwa diantara 487 orang praktisi yang disurvey di kota metropolitan di Amerika Serikat, 88% psikolog, 59% psikiater, dan 88% dokter medis menyatakan menggunakan bibliotherapy dalam praktik mereka.  Starker (1988) dalam suatu studi nasional menemukan bahwa hampir 60% psikolog kadang‐kadang menggunakan bibliotherapy dalam praktik sedangkan 24% sering menggunakan.

Sebagai  kesimpulan,  bibliotherapy  merupakan  teknik  treatment  yang  populer  diantara  para profesional pemberi bantuan, termasuk konselor, psikolog, dan psikiater. Sedangkan pekerja sosial kurang menggunakan teknik bibliotherapy ini.

Penelitian tentang Bibliotherapy

Baik fiksi maupun nonfiksi dapat digunakan saat memberi treatment pada klien dalam bibliotherapy. Walaupun  bukti‐bukti  penelitian  terbaru  mendukung  bahwa  fiksi  dapat  digunakan  sebagai  alat terapeutik yang baik, namun penelitian secara jelas menyimpulkan bahwa  material bacaan yang berupa buku bantu diri (selfhelp book) secara empiris terbukti merupakan alat klinis yang sangat berhasil.

Pada permulaan tahun 1980‐an, dilakukan sejumlah studi tentang penggunaan fiksi sebagai alat terapeutik. Penelitian dapat dikelompokkan pada beberapa kategori: prestasi akademik, keasertifan, perubahan sikap, perubahan perilaku, hubungan perkawinan, penurunan rasa takut, peningkatan konsep diri, dan keefektifan terapeutik.

Prestasi Akademik

Sebagian  besar  studi  mengesakan  bahwa  bibliotherapy  tidak  meningkatkan  prestasi  akademik, namun  ada  studi  yang  menunjukkan  bahwa  bibliotherapy  berdampak  secara  positif  terhadap prestasi  akademik.  Whipple  (1978)  menyimpulkan  bahwa  bibliotherapy  mampu  meningkatkan prestasi akademik dalam ilmu biologi pada siswa yang berada di panti asuhan negara. King (1972) menemukan bahwa siswa berprestasi rendah yang menerima bibliotherapy sebagai tambahan pada kelas seni bahasa menunjukkan perolehan yag signifikan dibandingkan dengan siswa berprestasi rendah  yang  hanya  mendapat  kelas  seni  bahasa.  Studi  Lundstein  (1972)  melaporkan  bahwa bibliotherapy membantu meningkatkan keterampilan komunikasi siswa‐siswa sekolah dasar.

Peneliti lain menemukan bahwa bibliotherapy tidak mempengaruhi prestasi akademik secara positif. Bigge  &  Sandefur  (1960)  menemukan  bahwa  bibliotherapy  tidak  membantu  siswa  SMA meningkatkan  prestasi  akademiknya.  Dixon  (1970)  menyimpulkan  bahwa  bibliotherapy  bersama dengan  pengajaran  membaca  remedial  tidak  meningkatkan  keterampilan  membaca.  Livengood (1961) juga melaporkan bahwa bibliotherapy gagal dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa.  Studi  yang  dilakukan  oleh  Fonder  (1968)  menunjukkan  bahwa  bibliotherapy  tidak meningkatkan  prestasi  akademik  dalam  kelompok  siswa  miskin.  Penelitian  yang  dilakukan  oleh Schultheis  (1969)  menemukan  bahwa  siswa  kelas  lima  dan  enam  tidak  memperoleh  prestasi membaca setelah menjalani bibliotherapy.

Keasertifan

Penelitian  menunjukkan  bahwa  bibliotherapy  dapat  menaikkan  tingkat  keasertifan.  Mc  Govern (1976)  melaporkan  bahwa  keasertifan  subjek  yang  mendapat  bibliotherapy  setelah  mengikuti pelatihan  keasertifan  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  subjek  yang  hanya  mengikuti  pelatihan keasertifan saja. Allen (1978) dan Nesbitt (1977) menemukan bahwa perilaku asertif meningkat setelah subjek menyelesaikan program bibliotherapy.

Perubahan sikap

Jackson  (1944),  Litcher  &  Johnson  (1969),  dan  Standley  &  Standley  (1970)  melaporkan  bahwa bibliotherapy secara positif mengubah sikap anggota kelompok mayoritas (kulit putih) terhadap orang  kulit  hitam.  Smith  (1948)  menyimpulkan  bahwa  siswa  dapat  melaporkan  bagaimana bibliotherapy  mengubah  sikap  mereka.  Tatara  (1964)  menemukan  bahwa  bibliotherapy  berhasil mengubah  sikap  terhadap  ilmuwan.  Wilson  (1951)  melaporkan  efek  positif  dari  bibliotherapy terhadap perubahan masalah‐masalah sikap yang berat.

Perubahan Perilaku

Lewis (1967) menyimpulkan bahwa saat anak mengikuti program bibliotherapy, ekspresi perilaku agresfinya meningkat, namunperilaku selfishnya tidak menurun. Shirley (1966) menemukan bahwa siswa  dapat  melaporkan  bagaimana  buku  mengubah  perilaku  mereka.  Sedangkan  studi  dari McClasky (1966) menunjukkan bahwa bibliotherapy secara positif mengubah perilaku klien yang mengalami gangguan secara emosional.

Hubungan perkawinan

Sebagian  besar  penelitian  menunjukka  n  bahwa  bibliotherapy  tidak  meningkatkan  hubungan perkawinan. Carr (1975) menemukan bahwa bibliotherapy tidak berhasil saat digunakan sebagai pendekatan  untuk  membantu  orang  mengatasi  konflik  perkawinan.  Barton  (1977)  juga menyimpulkan  bahwa  bibliotherapy  tidak  membantu  pasangan  memecahkan  masalah perkawinannya. Studi dari Baum menunjukkan bahwa penggunaan bibliotherapy dalam kelompok untuk pengayaan perkawinan tidak berbeda secara signifikan dari penggunaan format yang lebih umum dan terstruktur.

Mengurangi rasa takut

Penelitian awal menunjukkan bahwa bibliotherapy memberikan sedikit efek terhadap penurunan rasa takut. Bila Webster (1961) menemukan bahwa bibliotherapy dapat mengurangi rasa takut pada siswa kelas satu, sebaliknya dengan studi Dixon (1974) dan Link (1977) yang tidak menemukan keefektifan bibliotherapy dalam menurunkan rasa takut dan kecemasan pada individu‐individu yang mereka  teliti.  Namun,  studi‐studi  terbaru  yang  dilakukan  oleh  Chambers  (1985),  Dixon  (1988), Mackenzie  (1989)  ,  Tindall  (1986),  Tremewan  dan  Strongman  (1991),  dan  Tucker  (1981) menyimpulkan  bahwa  fiksi  memberikan  makna  yang  efektif  bagi  anak  dalam  mengatasi  rasa takutnya.

Konsep diri dan pengembangan diri

Kanaan (1975), King (1972), dan Penna melaporkan bahwa bibliotherapy memiliki dampak positif terhadap konsep diri anak. Namun, studi yang dilakukan oleh  Caffee (1975), Dixon (1974), Roach (1975), dan Shearon (1975) tidak menunjukkan bahwa bibliotherapy meningkatkan konsep diri anak yang terlibat dalam penelitian.

Sejumlah studi menyimpulkan bahwa bibliotherapy secara positif berdampak pada perkembangan diri. Appleberry (1969) menemukan bahwa bibliotherapy dapat meningkatkan kesehatan mental populasi  nonklinis  anak  sekolah  dasar.  Bibliotherapy  membantu  mahasiswa  meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan insight, dan mengatasi stres (Amato, 1957).

Mattera  (1961)  menemukan  bahwa  buku‐buku  bacaan  membantu  anak  dalam  memecahkan masalahnya. Studi Herminghaus (1954) menunjukkan bahwa bibliotherapy membantu menghasilkan perilaku pribadi yang diinginkan pada kelompok anak‐anak yang berpartisipasi dalam penelitiannya.

Namun studi dari Bigge & Sandefur (1960) menunjukkan bahwa bibliotherapy tidak meningkatkan perkembangan  diri  siswa  SMA  dari  populasi  nonklinis.  Stephens  (1974)  menyimpulkan  bahwa bibliotherapy tidak meningkatkan kepercayaan diri (self‐reliance) siswa sekolah dasar.

Kegunaan terapeutik

Sebagian besar studi tentang bibliotherapy menunjukkan bahwa teknik ini dapat dinilai sebagai teknik  terapeutik.  Whipple  (1978)  menemukan  bahwa  bibliotherapy  membantu  meningkatkan kesehatan  mental  tahanan.  Muehleisen  (1976)  menyatakan  bahwa  bibliotherapy  mengurangi simtom‐simtom psikiatris dan meningkatkan kekuatan ego klien. Saper (1967) melaporkan bahwa bibliotherapy yang dikombinasikan dengan kelompok terapi menciptakan keterlibatan yang lebih besar, perilaku memecahkan masalah, dan insight subjek dibandingkan dengan kelompok terapi saja.

Penelitian yang dilakukan selama tahun 1980‐an memberikan kesan bahwa puisi, fiksi, dan bacaan inspirasional  kurang  efektif  dibandingkan  dengan  buku  bantu  diri.  Bisa  jadi  hal  ini  hanya  kasus karena  bacaan bantu diri lebih dapat dipertanggungjawabkan  untuk penelitian berbasis empirik dibandingkan dengan fiksi.

Nilai Bibliotherapy

Praktisi yang bekerja dengan klien yang mengalami masalah melihat nilai besar dari bibliotherapy. Secara  khusus,  bibliotherapy  dapat  membantu  klien  mendapatkan  insight  tentang  masalah, memberikan klien teknik relaksasi dan diversi, dan membantu klien fokus pada hal‐hal di luar dirinya

sendiri.

Walaupun salah satu kritik utama terhadap bibliotherapy adalah bahwa bibliotherapy bukan ilmu eksakta, namun banyak praktisi menemukan bahwa bibliotherapy merupakan alat treatment yang efektif. Yang perlu dicatat adalah bahwa hampir seluruh terapi bantuan jauh dari eksak, termasuk bibliotherapy. Bibliotherapy bisa jadi lebih kompleks  daripada terapi lain karena seseorang harus terampil baik dalam memilih literatur yang sejalan dengan masalah yang dihadapi klien maupun mengetahui bagaimana menggunakan literatur tersebut sebagai media terapeutik (Pardeck, 1990).

Jika  seseorang  berhasil  menyatukan  tahap‐tahap  ini,  bibliotherapy  dapat  terbukti  sebagai pendekatan treatment yang sangat berharga. Bibliotherapy  juga  dapat  digunakan  untuk  membantu  individu  meningkatkan  hubungan interpersonal. Sebagai contoh, jika klien memiliki masalah dalam hubungan dengan keluarga atau peer, bibliotherapy dapat membantu klien mengembangkan toleransi dan pemahaman terhadap orang  lain  dan  merumuskan  pendekatan  yang  lebih  objektif  untuk  mengatasi  masalah.  Setelah membaca bagaimana keluarga lain mengatasi masalah, individu dapat sampai pada solusi untuk mengatasi masalah keluarga. Insight penting terhadap masalah ini dapat membawa pada eksplorasi solusi dengan bantuan dari praktisi (Pardeck, 1990).

Bibliotherapy merupakan alat yang sangat baik untuk membantu klien mengatasi hambatan fisik atau  emosional.  Melalui  membaca  tentang  hambatan  (disability)  dan  perolehan  insight  tentang bagaimana  karakter  (tokoh)  dalam  buku  mengatasi  masalah  yang  mirip,  klien  dapat  mengatasi masalah yang berkaitan dengan hambatan (disablity)‐nya.

Bibliotherapy  juga  dipandang  sebagai  alat  preventif.  Sebagai  contoh,  remaja  dengan  perilaku berlebihan dapat memperoleh insight melalui literatur tentang perilakunya dan menemukan solusi untuk  mencegah  masalah  di  masa  mendatang.  Individu  dapat  membaca  tentang  krisis perkembangan  yang  terjadi  dan  merumuskan  strategi  untuk  mengatasinya.  Remaja  seringkali menaruh  perhatian  yang  besar  terhadap  seksualitas  manusia;  literatur  dapat  membantunya mengatasi masalah dan isu yag berkaitan dengan seksualitas.

 

Keterbatasan Bibliotherapy

Sebagaimana juga dengan sebagian besar pendekatan terapeutik, terdapat keterbatasan dan hal‐hal yang harus diwaspadai saat menggunakan bibliotherapy. Keterbatasan bibliotherapy yang paling utama  adalah  bibliotherapy  seharusnya  tidak  digunakan  sebagai  pendekatan  tunggal  terhadap treatment; bibliotherapy lebih sebagai tambahan terhadap treatment (Pardeck & Pardeck, 1984, 1986).

Sebagai sebuah seni, bibliotherapy memiliki sejumlah keterbatasan:

Pertama, campuraduknya dukungan empiris bagi bibliotherapy yang dilakukan melalui fiksi, namun bukti memberikan kesan bahwa nonfiksi, khususnya buku‐buku bantu diri (selfhelp book) dinilai memiliki dukungan ilmiah dalam bibliotherapy.

Kedua, banyak orang yang bukan pencadu membaca; hal ini berarti bibliotherapy memiliki dampak yang terbatas pada kelompok orang ini. Namun dinyatakan bahwa bibliotherapy berhasil dilakukan terhadap kelompok bukan pembaca melalui buku bicara (talking book) maupun pendekatan inovatif lainnya.  Bibliotherapy  paling  efektif  bagi  anak  dan  remaja  yang  memiliki  kebiasaan  membaca.

Penting untuk diperhatikan orang yang membantu harus mengetahui klien dengan sebaik mungkin untuk menilai tingkat membaca dan minat klien. Jika klien dan helper tidak cocok (match), material bacaan bisa menyebabkan klien frustrasi (Pardeck & Pardeck, 1984).

Ketiga,  klien  mungkin  mengintelektualisasikan  masalah  saat  membacanya.  Klien  bisa  gagal mengidentifikasi diri dengan karakter dalam cerita, yang kemudian memunculkan bentuk proyeksi  untuk meredakan klien dari tanggungjawab mengatasi masalah (Pardeck & Pardeck, 1984). Anak‐anak  dengan  usia  lebih  muda  juga  masih  terbatas  dalam  perkembangan  kognitif,  sehingga bibliotherapy mungkin kurang tepat.

Keempat, berbahaya mengandalkan terlalu banyak hal pada buku (Bernstein, 1983). Bibliotherapy tidak dapat mengatasi seluruh masalah, bahkan mungkin meningkatkan rasa takut, defense, dan meningkatkan  rasionalisasi  atas  perubahan.  Seseorang  harus  benar‐benar  mengingat  bahwa bibliotherapy bukanlah pengobatan ajaib untuk semua masalah.

Kelima,  kemungkinan  bahwa  hubungan  dengan  orang  yang  membantu  bisa  menyebabkan teratasinya  masalah  perlu  dipertimbangkan  (Zaccaria  &  Moses,  1968).  Sebagaimana  pada  cara terapeutik  lainnya,  perlu  dimonitor  dengan  asesmen  yang  teliti  tentang  efek  dari  hubungan terapeutik terhadap masalah klien versus dampak bibliotherapy terhadap masalah klien (Pardeck, 1990).

Dengan  memperhatikan  keterbatasan‐keterbatasan  tersebut,  praktisi  maupun  orang  yang membantu  akan  dapat  menjadikan  bibliotherapy  sebagai  pendekatan  kreatif  untuk  mengatasi masalah, tidak hanya pada orang dewasa namun juga pada anak‐anak.

 

PrinsipPrinsip Bibliotherapy

Pardeck & Pardeck (1984, 1986) dan Rubin (1978)menguraikan prinsip‐prinsip utama bibliotherapy sebagai berikut:

1.  Orang yang membantu harus menggunakan material bacaan yang dikenalnya.

2.  Orang yang membantu harus menyadari panjang material bacaan. Hindari material yang kompleks dengan detail dan situasi yang tidak ada hubungannya.

3.  Pertimbangkan masalah klien; material bacaan harus dapat diaplikasikan terhadap masalah, namun tidak harus identik.

4.  Kemampuan membaca klien harus diketahui dan dijadikan pengarah dalam memilih material bacaan yang akan digunakan. Jika klien tidak dapat atau kurang mampu membaca, perlu dilakukan membaca nyaring atau menggunakan material audiovisual.

5.  Kondisi  emosional  dan  usia  kronologis  klien  harus  diperhatikan  dan  direfleksikan  dalam tingkat kesulitan material bacaan terpilih.

6.  Sebagaimana  dikatakan  oleh  Zaccaria  &  Moses  (1968),  minat  membaca,  baik  individu maupun umum merupakan pengarah dalam seleksi:

Minat baca anak‐anak dan remaja mengikuti tahapan yang dapat diprediksi.

•  Dari  usia  2/3  tahun  sampai  6/7  tahun  anak  senang  mendengarkan  cerita  tentang kejadian‐kejadian seputar keluarga.

•  6/7 sampai 10/11 tahun, terdapat peningkatan minat terhadap cerita‐cerita fantasi.

•  Remaja melalui beberapa tahapan membaca. Remaja awal (12‐15 tahun) cenderung tertarik pada cerita binatang, petualangan, misteri, kisah supernatural, olahraga. Remaja pertengahan  (15‐18  tahun)  minat  membaca  berubah  terhadap  topik  seperti  kisah perang, roman, dan cerita kehidupan remaja. Minat membaca pada usia remaja akhir (18‐21 tahun) cenderung terarah pada cerita yang berkaitan dengan nila‐niali pribadi, makna sosial, pengalaman manusia yang asing dan tidak biasa, dan transisi terhadap kehidupan usia dewasa.

7.  Material  bacaan  yang  mengekspresikan  perasaan  atau  mood  yang  sama  dengan  klien seringkali merupakan pilihan yang baik. Prinsip ini disebut sebagai “isoprinciple”, istilah yang berasal dari teknik terapi musik dan biasa digunakan dalam terapi puisi.

8.  Material audiovisual harus dipertimbangkan dalam treatment  jika tidak tersedia material bacaan.

**) Thebes adalah kota di Mesir Kuno yang terletak 800 km sebelah selatan Lau Tengah, di tepi timur sungai Nil. (sumber: id.wikipedia.org/wiki/Thebes,_Mesir) – penerjemah.

*) Terjemahan dari buku Bibliotherapy, A Clinical Approach for Helping Children, kar.John T.Pardeck & Jean A.Pardeck, 1993, Amsterdam: Gordon and Breach Science Publishers S.A.

Baca Juga:

BIBLIOTHERAPY SEBAGAI METODE TREATMENT*)

Membaca Efektif

Teknik-Teknik Konseling

Cybercounseling Sebagai Alternatif Pengembangan Komunikasi Konseling Individual

Innovasi Pendekatan/Layanan Konseling

 

About these ads

2 thoughts on “BIBLIOTHERAPY: Definisi, Sejarah dan Tujuan*)

  1. Ping-balik: BIBLIOTHERAPY SEBAGAI METODE TREATMENT*) | himCayoo!

  2. Ping-balik: Konseling Kelompok yang Efektif*) | himCayoo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s