Modus dan Format Pelaksanaan Pelayanan Konseling


Sebagai profesi yang mandiri pelayanan profesional konseling menggunakan modus yang berbeda dalam pelaksanaan pelayanannya dibanding profesi-profesi lainnya. Dalam rumpun profesi pendidikpun pelaksanaan tugas kependidikan oleh konselor berbeda dari tugas kependidikan oleh guru misalnya. Guru, sebagai pemegang salah satu profesi pendidik, fokus tugas pokoknya adalah pengembangan PMP (penguasaan materi pelajaran) dan penanganan PMP-T (penguasaan materi pelajaran yang terganggu) peserta didik yang diselenggarakan melalui modus pengajaran terkait dengan mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. Sedangkan konselor, sebagai pemegang profesi pendidik yang lain, fokus tugas pokoknya adalah pengembangan kehidupan efektif sehari-hari (KES) dan penanganan kehidupan edektif sehari-hari yang terganggu (KES-T) individu/peserta didik melalui modus layanan konseling. Modus pengajaran oleh guru dan modus layanan konseling oleh konselor jauh berbeda, meskipun di antara keduanya memiliki landasan kaidah teori dan praksis yang sama, yaitu dalam bidang keilmuan pendidikan.

Pendekatan

Modus pelayanan konseling secara konkrit mengadopsi  semua kaidah tentang orientasi, fungsi, prinsip dan asas dengan kelima landasannya Secara umum, modus pelayanan konseling diwarnai oleh tiga pendekatan, yaitu pendekatan direktif, pendekatan non-direktif, dan pendekatan eklektik. Pendekatan direktif cenderung memberikan arahan langsung kepada subjek yang dilayani berkenan dengan pengembangan KES dan penanganan KES-T. Dalam pendekatan direktif ini konselor cenderung pada posisi sangat aktif, sedang subjek yang dilayani lebih cenderung pasif dalam memahami dan menerima berbagai hal dari konselor. Sebaliknya, dalam pendekatan non-direktif konselor mendorong subjek yang dilayani untuk benar-benar aktif,  sebagaimana dikehendaki dalam asas kegiatan. Dalam pendekatan non-direktif ini konselor berusaha sekuat tenaga menggerakkan subjek yang dilayani untuk berpikir, merasa dan bertindak berkenaan dengan materi yang dibahas dalam layanan konseling.

Tampaknya, kedua pendekatan, yaitu direktif dan non-direktif, berposisi berseberangan, padahal fokusnya sama, yaitu pengembangan KES dan penanganan KES-T. Posisi “berseberangan” dalam arti saling meniadakan, pastilah tidak. Kedua pendekatan itu masing-masing memilki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Konselor profesional tentulah arif dengan adanya kekuatan dan kelemahan yang ada pada kedua pendekatan itu. Konselor profesional mengangkat dan menegakkan segenap kekuatan yang ada di kedua pendekatan itu dan  mengeliminir sehabis-habisnya kelemahannya. Konselor demikian itu menggunakan pendekatan eklektik, yaitu memilih hal-hal yang menguntungkan dari kedua pendekatan dan menghindari hal-hal yang merugikan.

Lebih jauh, di samping pendekatan umum tersebut di atas, oleh para ahli telah dikembangkan pendekatan-pendekatan khusus yang didasarkan pada kajian teori tertentu. Di sini dapat diidentifikasi 10 pendekatan khusus yang dimaksud, yaitu pendekatan:

1. Konseling Psikoanalisis Klasik (Freud), yang hendak membawa hal-hal yang tidak disadari oleh subjek yang dilayani ke dalam kesadarannya dalam rangka menghadapi situasi yangs selama ini ia gagal mengatasinya.

2. Konseling Ego (Adler, Jung, Fromn), yang hendak membangun identitas ego sehingga fungsi ego subjek yang dilayani menjadi kuat.

3. Konseling Psikologi Individual (Adler), yang hendak membantu subjek yang dilayani mengubah konsep tentang dirinya dan mengoreksi persepsi yang salah tentang lingkungannya, serta mengembangkan tujuan-tujuan baru yang hendak dicapai melalui tingkah laku yang baru.

4. Konseling Analisis Transaksional (Berne), yang hendak memperkokoh peran dan fungsi ego state adult (dewasa) secara optimal subjek yang dilayani.

5. Konseling Self (Rogers), yang hendak membantu subjek yang dilayani memiliki kedirian (self) yang lebih matang untuk mampu mewujudkan diri sendiri (self actualization).

6. Konseling Gestalt (Perls)yang hendak mendorong pengembangan perilaku subjek yang dilayani menurut prinsip-prinsip Gestalt.

7. Konseling Behavioral (Skinner), yang hendak mendorong pengembangan perilaku subjek yang dilayani menurut prinsip-prinsip belajar dan pembiasaan.

8. Konseling Realitas (Glasser), yang hendak mendorong pengembangan perilaku subjek yang dilayani menurut pilar 3R : right, responsibility, dan reality.

9. Konseling Rasional-Emotif (Ellis), yang hendak  memerangi pemikiran tidak rasional subjek yang dilayani dan mengubahnya menjadi pemikiran rasional.

10. Pendekatan Konseling Pancawaskita (Prayitno), yang menekankan pentingnya penggatraan gatra pada diri subjek yang dilayani. Gatra adalah sesuatu yang penuh arti, apa yang ada pada diri subjek yang dilayani, termasuk tingkah lakunya sehari-hari dibuat menjadi penuh arti.

            Berkenaan dengan adanya berbagai pendekatan dalam konseling di atas, kemampuan pelayanan mereka yang belajar konseling berkembang menurut lima tahap, yaitu tahap-tahap :

1. Pragmatik

2. Dogmatik

3. Sinkretik

4. Eklektik

5. Mempribadi

Kemampuan pragmatik dalam pelayanan konseling sekedar mengandalkan pengalaman yang pernah diperoleh tanpa mendasarkan sama sekali pada teori tertentu. Inilah ”pendekatan” tanpa teori. Selangkah lebih maju adalah pendekatan berdasarkan  sebuah teori, misalnya salah satu dari teori no. 1 sd. no. 9 di atas. Satu teori itu dijadikan andalan untuk segala macam pelayanan konseling. Satu teori itu sepertinya dijadikan dogma untuk segala sesuatunya. Pendekatan satu teori untuk segalanya ini disebut pendekatan dogmatik.

Melangkah lebih jauh, adalah pelayanan konseling yang didasarkan pada banyak teori. Bermacam-maca teori dipelajari dan teori-teori itu secara acak diterapkan, tanpa memilih-milih teori mana  yang tepat. Inilah pendekatan sinkretik. Melangkah lebih jauh lagi, yaitu pendekatan eklektik yang berusaha memilih dan menerapkan kaidah teori tertentu secara tepat untuk aspek-aspek pelayanan yang dimaksud. Pendekatan eklektik sangat memperhatikan berbagai teori dan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan masing-masing teori itu. Pendekatan konseling eklektik berusaha memanfaatlan kekuatan yang ada pada berbagai teori itu sambil menghindari kelemahannya. Pendekatan no. 9 (Konseling Pancawaskita) dimaksudkan sebagai pendekatan yang memberikan kerangka bagi diaperasionalkannya pendekatan eklektik seperti itu.

Tahap yang paling tinggi atau ideal dari kemampuan pelayanan konseling adalah tahap kelima, yaitu tahap mempribadi. Maksudnya adalah, seseorang yang telah mampu menyelenggarakan pendekatan eklektik dalam arti yang luas mewarnai keeklektikkannya itu dengan ciri pribadinya secara khas. Pada tahap ini pelayanan konseling profesional telah diwarnai oleh seni yang terpancar dari diri pribadi konselor yang menjadikan pelayanan itu lebih ”sedap”, selain efektif dan efisien.

Teknik Konseling

Dalam semua pendekatan yang dikemukan di atas terdapat berbagai teknik konseling yang digunakan dalam pelaksanaan pelayanannya. Ada dua kategori dalam teknik konseling, yaitu teknik umum dan teknik khusus. Teknik umumnya digunakan dalam pengembangan proses konseling pada umum sedangkan teknik konseling khusus diarahkan secara khusus untuk pengubahan tingkah laku subjek yang dilayani.

Teknik umum konseling yang diambil dari berbagai teori/pendekatan di atas adalah :

1. Penerimaan terhadap subjek yang (akan) dilayani

2. Sikap dan jarak duduk

3. Kontak mata

4. Tiga M (mendengarkan dengan baik, memahami secara cermat, dan merespon secara tepat dan positif)

5. Kontak psikologis

6. Penstrukturan

7. Ajakan berbicara

8. Dorongan minimal

9. Pertanyaan terbuka

10. Refleksi : isi dan perasaan

11. Penafsiran

12. Penyimpulan

13. Konfrontasi

14. Keruntutan

15. Strategi ”pemfrustrasian”

16. Strategi ”tidak mema’afkan”

17. Suasana diam

18. Tranferensi dan kontra transferensi

19. Teknik eksperiensial

20. Interpretasi pengalaman masa lalu

21. Asosiasi bebas


Adapun teknik khususnya adalah :

1. Pemberian informasi

2. Pemberian contoh : umum dan pribadi

3. Ajakan untuk memikirkan yang lain

4. Perumusan tujuan

5. Peneguhan hasrat

6. Latihan penenangan : sederhana dan penuh

7. Desensitisasi dan sensitisasi

8. Kursi kosong

9. Permainan peran/dialog

10. Latihan keluguan

11. Latihan seksual

12. Analisis transaksional

13. Analisis gaya hidup

14. Pemberian nasihat

15. Kontrak

Jenis Layanan

Dengan menggunakan berbagai teknik di atas pelayanan konseling diselenggarakan melalui jenis-jenis layanan berikut :

1. Layanan Orientasi

2. Layanan Informasi’

3. Layanan Penempatan/Penyaluran

4. Layanan Penguasaan Konten

5. Layanan Konseling Perorangan

6. Layanan Bimbingan Kelompok

7. Layanan Konsleing Kelompok

8. Layanan Konsultasi

9. Layanan Mediasi


Kegiatan Pendukung

Untuk memperkuat penyelenggaraan berbagai jenis layanan konseling dan hasil-hasilnya, kegaitan pendukung konseling diupayalam. Enam kegiatan pendukung adalah :

1. Instrumentasi

2. Himpunan Data

3. Konferensi Kasus

4. Kunjungan Rumah

5. Tampilan Kepustakaan

6. Alih Tangan Kasus

Sejak awal tahun 1990-an, satu kesatuan pengertian/pemahaman tentang bimbingan dan konseling (BK), empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung merupakan unsur-unsur pokok konkritisasi pelayanan BK, yang jumlahnya tujuh belas sebagaimana terdapat dalam SK Mendikbud No. 25/O/1995. unsur-unsur yang jumlahnya tujuh belas itu membentuk apa yang sering disebut ”BK Pola 17” untuk mengatasi ketimpangan konsep dan pelaksanaan Bimbingan  dan Penyuluhan (BP) pada waktu sebelum 1990-an, yang sering disebut ”BK Pola Tidak Jelas”. Lebih jauh, seiring dengan pengembangan konsep/teori, praksis dan praktik pelayanan konseling, ”BK Pola 17” berkembang menjadi (BK Pola 17 Plus).

Standar Prosedur Operasional

            Agar jenis-jenis layanan dan kegiatan-kegiatan pendukung berjalan dengan sebaik-baiknya, maka setiap jenis layanan konseling perlu diselenggarakan dengan memenuhi standar prosedur operasional (SPO) yang ditentukan. Pada umumnya SPO untuk tiap jenis layanan adalah apa yang disebut ”presedur lima-an”, yaitu :

1. Pengantaran

2. Penjajagan

3.Penafsiran

4. Pembinaan

5. Penilaian

Setiap jenis layanan konseling, dari awal sampai akhir kegiatan layanan, kelima tahapan prosedur di atas harus dilaksanakan. Kegaitan pendukung yang proses dan hasilnya menunjang proses dan hasil layanan, biasanya diselenggarakan tersendiri atau ”di luar”  operasionalisasi jenis layanan yang dimaksud, meskipun di antara jenis layanan dan kegiatan pendukungnya terdapat keterkaitan yang cukup erat. Kegaitan pendukung seperti itu memiliki standar prosedur operasional masing-masing.

SPO dalam layanan konseling erat kaiatannya dengan kaidah-kaidah pengelolaan pada umumnya. Kaidah-kaidah pengelolaan itu perlu mendapat perhatian baik dalam penyelenggaraan masing-masing jenis layanan maupun kegiatan pendukung konseling.

Format Layanan

Jenis layanan konseling dan kegiatan pendukungnya masing-masing diselenggarakan dalam kaitannya dengan subjek yang dilayani dalam kontekstual tertentu. Berkenaan dengan hal itu ada enam format yang dapat ditempuh, yaitu :

1. Format individual

2. Format kelompok

3. Format klasikal

4. Format lapangan

5. Format kolaboratif

6. Format jarak jauh

Format 1, 2, dan 3 terkait dengan jumlah subjek yang dilayani serta tempat/dan suasana pelayanan, sedangkan format 4, 5, dan 6 menyangkut lingkup wilayah dan peran pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Format lapangan melibatkan sejumlah hal di lapangan, baik yang bersifat lingkungan fisik maupun sosial-kebudayaan. Format kolaboratif memerankan pihak di luar subjek yang dilayani dan konselor, dengan harapan pihak-pihak yang dimaksudkan itu dapat memfasilitasi pengembanagn KES  dan penanganan KES-T subjek yang dilayani. Format jarak jauh diselenggarakan dengan menggunakan sarana komunikasi jarak jauh. 

Sumber:

Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: Universitas Negeri Padang (h. 33-40)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s