Metode Observasi


Observasi merupakan metode paling lama dan mendasar dalam penelitian. Pendekatan

riskofdawn.blogspot.com

riskofdawn.blogspot.com

eksperimental, studi kasus dan naturalistik, semuanya melibatkan observasi untuk melihat apa yang sedang atau yang telah dilakukan oleh para subyek. Karena itu, pembahasan observasi dijabarkan secara lebih lengkap untuk kejelasan aplikasinya.

Metode observasi memungkinkan peneliti merefleksi dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukannya. Impresi dan perasaan pengamat akan menjadi bagian dari data yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti. Bagi seorang psikolog/konselor, observasi perlu dilakukan karena beberapa alasan:

  1. Memungkinkan mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-anak.

  2. Prosedur Testing Formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak-anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.

  3. Observasi dirasakan lebih tidak mengancam dibandingkan cara pengumpulan data yang lain. Pada anak-anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat dibandingkan orang dewasa sebab orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila merasa sedang diobservasi.


    Oleh karena itu, tujuan observasi bagi seorang psikolog/konselor pada dasarnya adalah:

    1. Untuk keperluan asesmen awal. Biasanya dilakukan diruang konsleing, misalnya di ruang tunggu, halaman, kelas atau ruang bermain.

    2. Untuk menentukan kelebihan dan kelemahan observe dan manggunakan kelebihan tersebut untuk meningkatkan keahlian klien.

    3. Untuk merancang rencana individual (individual plan) bagi klein berdasarkan kebutuhannya.

    4. Sebagai dasar / titik awal dari kemajuan klien.

    5. Bagi anak-anak dapat berguna untuk mengetahui perkembangannya pada tahap tertentu.

    6. Untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan klien.

    7. Digunakan dalam memebri laporan pada orang tua, guru, dokter dan lain-lain.

    8. Sebagai informasi status anak / remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling.

Dimensi Observasi

Secara umum setiap observasi yang dilakukan tercakup dalam tiga dimensi, yaitu:

Partisipan dan Non Partisipan

Overt dan Covert

Alamiah dan Buatan

Dalam setiap observasi yang dilakukan selalu tercakup ketiga dimensi di atas, dengan berbagai kombinasi yaitu partisipan-overt-alamiah (poa), nonpartisipan-overt-alamiah (noa), partisipan-covert-buatan (pcb), dan lain sebagainya.

Patton menjelaskan berbagai alternatif cakupan dalam pendekatan observasi yang perlu dipertimbangkan dengan baik, yakni:

  1. Apakah pengamat partisipan aktif dalam setting yang diamatinya ataukah ia menjadi pengamat pasif, dalam arti tidak terlibat dalam aktivitas yang diamatinya tersebut? (partisipasi atau non partisipasi)

Pengamat yang partisipatif akan menggunakan strategi pendekatan lapangan yang beragam: secara simultan mengkombinasikan analisis dokumen, mewawancara responden dan informan, berpartisipasi langsung sekaligus mengamati, dan melakukan introspeksi. Hal-hal tersebut tidak dilakukan peneliti yang melakukan observasi tidak terlibat (tidak partisipatif). Keputusan sejauh mana peneliti perlu terlibat dalam aktivitas yang diteliti akan tergantung pada banyak hal, antara lain sifat fenomena yang diteliti, konteks politis, maupun pertanyaan-pertanyaan penelitian.

Bila sebagian peneliti menyatakan keterlibatan aktif dalam konteks yang diamati merupakan cara paling ideal, Patton menganjurkan agar kita tidak perlu berpikir demikian. Yang paling penting adalah menegosiasikan dan menyesuaikan derajat pasrtisipasi aktif peneliti dengan karakteristik subyek atau obyek penelitian, sifat interaksi peneliti-subyek penelitian, maupun konteks sosial politik yang melingkupi fenomena yang diteliti. Dalam kasus-kasus tertentu, keterlibatan dan partisipasi aktif pengamat justru dapat memunculkan masalah dan mengganggu langkah-langkah pengumpulan data.

  1. Apakah peneliti melakukan observasinya secara terbuka ataukah secara tertutup / terselubung? (overt atau covert)

Diyakini bahwa manusia pada umumnya akan bertingkah laku berbeda bila tahu bahwa mereka diamati. Sebaliknya, individu yang tidak menyadari bahwa ia sedang diamati akan bertingkah laku biasa (tidak dibuat-buat atau disesuaikan dengan harapan sosial). Karenanya, sebagian peneliti berpendapat observasi yang tidak terbuka (covert) akan memungkinkan peneliti menangkap kejadian yang sesungguhnya daripada observasi terbuka.

Meski demikian, tinjauan etis mengungkapkan problema berbeda: apakah etis melakukan observasi sistematis tanpa memebri tahu dan meminta izin?

  1. Apakah observasi perlu dilakukan dalam jangka waktu lama, atau cukup dalam waktu yang terbatas?

Dalam tradisi studi antropologis, observasi dapat berlangsung sangat lama, dilakukan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dengan maksud agar peneliti dapat memperoleh pemahaman holistic mengenai budaya kelompok yang ditelitinya.

Sementara, dlaam studi ilmu sosial pada umumnya tujuan digunakannya observasi adalah untuk mengungkap kompleksitas dan pola-pola realitas sosial.

Untuk studi yang lebih praktis, waktu observasi yang terlalu lama tidak diperlukan, apalgi bila fenomena yang diteliti adalah fenomena spesifik yang berlangsung pada saat-saat tertentu saja. Dalam situasi yang demikian, yang penting adalah keberhasilan peneliti melalukan observasi terhadap fenomena khusus yang jarang terjadi tersebut.

  1. Variasi berkenaan dengan fokus observasi: fenomena utuh atau aspek-aspek khusus?

Ada observasi yang difokuskan pada fenomena utuh, dalam situasi ini dibutuhkan perhatian meluas pada semua aspek yang terlibat. Ada pula observasi yang sempit, misalnya dengan memfokus pada aspek-aspek atau elemen-elemen tertentu saja dan keseluruhan denomena yang kompleks.

Sedangkan Banister (1994) menambahkan beberapa variasi pendekatan yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut:

a. Variasi dalam struktur observasi: Dapat bervariasi mulai dari observasi yang dilakukan secara sangat terstruktur dan mendetail sampai pada observasi yang tidak terstruktur.

b. Variasi dalam fokus observasi: Dapat bervariasi mulai dari dikonsentrasikan secara sempit pada aspek-aspek tertentu saja (misal: bentuk komunikasi non verbal tertentu saja) atau diarahkan secara luas pada berbagai aspek yang dianggap relevan.

c. Variasi dalam metode dan sarana / instrumen yang digunakan untuk melakukan dan mencatat observasi: Mulai dari tulisan tangan, penggunaan komputer (note book), dipakainya lembar pengecek, stop watch, atau alat-alat yang lebih canggih seperti perekam suara dan gambar.

d. Pemberian umpan balik: Apakah umpan balik (perlu) diberikan kepada orang-orang yang diamati? Bila umpan balik disampaikan, sejauh mana informasi akan disampaikan dan mengapa?

Alat Observasi

Ada beberapa alat observasi yang digunakan dalam situasi-situasi yang berbeda-beda antara lain:

  1. Anecdotal

Observer mencatat hal-hal yang penting. Pencatatan dilakukan sesegera mungkin pada tingkah laku yang istimewa. Observer harus mencatat secara teliti apa dan bagaimana kejadiannya, buka bagaimana menurut pendapatnya. Akan tetapi kerugian dari bentuk seperti ini adalah memakan waktu yang agak lama.

  1. Catatan Berkala

Dalam catatan berkala penyelidi tidak mencatat macam-macam kejadian khusus sebagaimana pada observasi anecdotal, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu. Apa yang dia lakukan adalah mengadakan observasi cara-cara orang bertindak dalam jangka waktu tertentu, kemudian menuliskan kesan-kesan umunya. Setelah itu dia menghentikan penyelidikannya dan mengadakan penyelidikan lagi pada saat lain dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

  1. Check List

Check list adalah suatu daftar yang berisi nama-nama subyek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki. Check list dimakudkan untuk menjadikan sistematis catatan observasi. Dengan check list ini lebih dapat dijamin bahwa penyelididk mencatat tiap-tiap kejadian yang telah ditetapkan hendak diselidiki.

Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam check list, dan observer tinggal memebri tanda check secara tepat tentang ada tidaknya aspek perbuatan yang tercantum dalam list.

  1. Rating Scale

Rating scale adalah pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya. Rating scale ini sangat popular karena pencatatannya sangat mudah, dan relatif menunjukkan keseragaman antara pencatat dan sangat mudah untuk dianalisa secara statistic.

Rating scale umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi cirri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara bertingkat. Observer diminta mencatat pada tingkah yang bagaimana suatu gejala atau cirri tingkah laku timbul.

Rating scale mempunyai kesamaan dengan check list. Observer tinggal memeberi tanda-tanda tertentu atau mengecek pada tingkat-tingkat tingkah laku tertentu. Dengan cara ini deskripsi yang panjang lebar tidak diperlukan, dan waktu sangat dihemat karenanya.

Namun demikian ada beberapa sumber kesesatan yang perlu mendapat perhatian dari observer, yaitu:

a. Hallo Effects

Kesesatan halo terjadi jika observer dalam pencatatannya terpikat oleh kesan-kesan umum yang baik pada observe, sedang observer tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu. Jadi misalnya seornag nggi pada observe observer mungkin terpikat oleh tingkah laku yang sangat sopan dari orang yang diamati, dan memberikan penilaian yang tinggi pada observe tanpa memperhatikan pada aspek yang sebenarnya hendak diamati. Dan sebaliknya seorang observer dapat member nilai yang lebih rendah daripada semestinya tentang suatu hal karena observee berpakaian yang kurang rapi, sedang observer sendiri adalah orang yang biasa berpakaian rapi.

b. Generosity Effects

Kesesatan dapat terjadi karena keinginan untuk berbuat baik. Dalam keadaan-keadaan yang meragukan seorang observer mempunyai kecenderungan untuk menilai yang menguntungkan (atau merugikan) observee.

c. Carry over Effects

Carry over effects terjadi jika pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dari yang lain dan jika gejala yang satu kelihatan timbul dalam keadaan baik, gejala yang lainnya juga dicatat juga dalam keadaan yang baik, sungguhpun kenyataannya tidak begitu. Pencatatan gejala yang satu dan dibawa-bawa dalam pencatatan gejala lainnya ini pasti tidak akan menghasilkan fakta-fakta yang sesuai dengan keadaannya. Sehingga hal ini perlu diperhatikan oleh seorang peneliti yang hendak meneliti suatu gejala.

Sumber:

Ardani, Tristiadi Ardi dan Iin Tri Rahayu dan Yuliana Sholichatun. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu. h. 52-58


About these ads

3 thoughts on “Metode Observasi

  1. Ping-balik: Wawancara Sebagai Teknik Pemahaman Individu | himCayoo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s