Konsep Multiple Intelligence


Sejak dikembangkan tes intelegensi oleh Binet dan Simon di Perancis pada awal tahun 1900-an, tes intelegensi begitu popular digunakan oleh masyarakat dunia. Ketika itu, konsep intelegensi diartikan sebagai kekuatan intelektual yang diwariskan (berdasar dari faktor bawaan). Dalam penegrtian ini intelegensi siswa sebagai suatu yang permanen. Perkembangan lebih lanjut, intelegensi dipahami sebagai gabungan faktor bawaan dan lingkungan. Pandangan ini tercermin dari pernyataan Ramey (Dalam Rose dan Nicholl, 1997) bahwa pengalaman menstimulasi mental secara possitif pada awal masa anak dapat menambah 20 poin dari skor IQ sebelum ia distimulasi. Pandangan terhadap pengertian intelegensi tersebut oleh Andy Carvin (2000) dikategorikan sebagai pandangan intelegensi konvensional.

Dalam pengertian konvensional, intelegensi sering diartikan sebagai kemampuan memecahkan masalah, menggunakan logika, dan berfikir kritis. Pengertian intelegensi seperti tersebut dikonsepsikan sebagai “raw intelligence”. Raw intelligence merupakan pengkonsepsian intelegensi secara sempit, namun dewasa ini masih tetap berkembang dan diacu oleh sejumlah ahli pendidikan dan psikologi.

Di bidang psikologi dan pendidikan, sebagian para ahli berpegang kuat pada pandangan bahwa intelegensi yang fenomenanya berwujud intelligence Quotient (IQ) merupakan karakteristik kemampuan umum untuk menjelaskan perbedaan tingkah laku dan belajar antar siswa. Diasumsikan bahwa setiap individu dapat diklasifikasikan menurut tingkatan intelegensinya. Sebagai contoh bahwa dasar asumsi tersebut digunakan para ahli bidang pendidikan dan psikologi adalah digunakannya alat tes untuk mengukur IQ atau raw intelligence. Salah satu alat tes yang sering digunakan di Amerika Serikat yaitu Scholastic Aptitude Test (SAT). Di Amerika SAT digunakan untuk menganalisis kemampuan gramatikal dan matematika, kemampuan perbendaharaan kata dan pemahaman bacaan siswa. SAT sebagai alat ukur oleh sebagian perguruan tinggi Amerika digunakan untuk membantu menentukan apakah seorang siswa berkualifikasi untuk memasuki lembaga pendidikan tertentu. Diasumsikan bahwa skor intelegensi hasil pengukuran dengan alat SAT dapat memprediksikan prestasi siswa di lembaga pendidikan berikutnya.

Berbeda dengan pengkonsepsian intelegensi diatasdapat disimak dari pembicaraan di antara para praktisi pendidikan pada umumnya mengenai intelegensi. Pertanyaan yang sering terlontar dalam pembicaraan mereka yaitu”Siapa yang dikategorikan sebagai seseorang yang inteligen? Seseorang disebut inteligen bilamana dalam dirinya memiliki general intellectual yaitu kemampuan memahami, memeriksa, dan merespon stimulus dari luar, apakah itu dalam memecahkan soal matematika dengan benar, mengantisipasi gerakan lawan dalam permainan tenis, kemmapuan memainkan alat musik sehingga dapat memukau para penontonnya, kemampuan melakukan negosiasi bidang bisnis sehingga karier bisnisnya berkembang dengan baik, kemampuan berorasi sehingga berhasil dalam karier bidang politiknya, dan sejenisnya. Dalam pemaknaan intelegensi seperti dicontohkan di atas dapat disimpulkan bahwa intelegensi merupakan kemampuan kolektif yang dimiliki setiap individu untuk bertindak dan bereaksi terhadap perubahan yang terjadi di dunia. Pemaknaan intelegensi seperti itu nampaknya didukung oleh para ahli psikologi dan pendidikan dewasa ini.

Pemahaman terhadap pengertian intelegensi yang disebut terakhir, Carvin (2000), memaknainya sebagai “…a pluralized way of understanding the intellect” ; dan menurut Gardner (1991) bahwa “…multiple intelligence theory, on the other hand, pluralizes the traditional concept”. Hasil penelitian bidang kognitif merefleksikan keyakinan bahwa “…intelligence is not a monolithic quality, but has multiple component” (Collin dan Mangieri, 1992). Robert Sternberg telah pula membedakan secara kualitatif jenis intelegensi menjadi: intelegensi componential (diukur dengan tes tradisional), contextual (kapasitas untuk memahami dengan kreatif), dan experiential (intelegensi ”the street smart”) (dalam Collin dan Mangieri, 1992).

Pendapat bahwa intelegensi merupakan suatu kemampuan yang jamak adalah sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan kognitif, psikologi perkembangan dan neuroscience. Tiga bidang ilmu ini menyimpulkan bahwa intelegensi seseorang sebenarnya merupakan swatantra kecakapan (faculties) yang dapat bekerja secara individual atau secara “berorkestra” dengan yang lain (Cavin, 2000).

Dalam pengertian intelegensi adalah jamak, kurang dari 26 tahun silam Howard Gardner mulai mengembangkan teori intelegensi yang berbeda dengan teori intelegensi karakteristik tunggal. Pada mulanya, gardner mendefinisikan intelegensi adalah ”An intelligence entails the ability to solve prolems or fashion products that are consecuence in a particular cultural setting or community” (Gardner, 1991). Selanjutnya, dia meredifinisi pengertian intelegensi sebagai “…a biopsychologicalpotential to process information that can be activated in cultural setting to solves problems or create products that are value in a cultural (Gardner, 1999:33-34). Menurut Gardner penambahan kata pada redefinisi intelegensi yaitu “…a biopsychological potential to process information that can be activated in cultural” adalah penting, karena intelegensi merupakan potensi biologis dan psikologis yang tidak dapat dilihat atau dihitung, namun potensi tersebut dapat diaktifkan bergantung pada nilai-nilai budaya tertentu, kesempatan yang ada dalam busaya, dan keputusan pribadi yang dibuat oleh individu atau keluarga mereka, guru di sekolah dan yang lainnya.

Konsep intelegensi adalah jamak memiliki cakupan yang luas dan lebih bersifat pragmatis, dan meningkatkan konsep intelegensi yang mistik menjadi konsep intelegensi yang fungsional yaitu dengan melihat berbagai cara kerja seseorang dalam kehidupannya (Amstrong, 1993). Intelegensi dalam pengertian ini mengasumsiakan bahwa perbedaan budaya menyebabkan adanya perbedaan kecenderungan berkembangnya jenis intelegensi tertentu disbanding yang lain. Dalam budaya barat intelegensi verbal dan intelegensi tertentu disbanding yang lain. Dalam budaya barat intelegensi verbal dan intelegensi logika-matematik merupakan dua intelegensi yang paling ditekankan dan difasilitasi untuk berkembang, karena dua jenis intelegensi tersebut sering beroperasi dalam budaya masyarakat barat (McGrath dan Noble, 1996).

Dalam teori multiple intelligence (MI) telah diidentifikasi jenis-jenis intelegensi. Gardner dan koleganya mengidentifikasi jenis intelegensi tersebut didasarkan pada delapan kriteria yang berakar dari sejumlah disiplin ilmu. Disiplin ilmu yang dimaksud adalah ilmu biologi yang mengkaji ”the potential of isolation by brain damage” dan “an evolutionary history and evolutionary plausible”, analisis logic, yang mangkaji “an identifiable care operatioan or set of operation” dan “susceptibility to encoding in symbol system”, psikologi perkembangan dengan fokus kajiannya pada “a performance” dan “the existence of idiot savants, prodigies, and other exceptional people”; serta akar disiplin ilmu psikologi tradisional bdengan kajiannya pada ”support from experiental psychological task” dan “support from psychometric finding”.

Berdasarkan atas pengunaan kriteria tersebut, pada mulanya (tahun 1983) telah ditemukan tujuh intelegensi yaitu intelegensi linguistic, logical-mathematic, spatial, musical, bodily-kinesthetic, interpersonal, dan intrapersonal (Gardner, 1991), kemudian dengan menggunakan kriteria yang sama pada akhir tahun 90-an diidentifikasi intelegensi ke delapan yaitu naturalistic intelligence (Rose dan Nicholl, 1997, Gardner 1999), dan juga telah dipertimbangkan intelegensi ke-sembilan dan ke-sepuluh yaitu existential intelligence (Cavin, 2000). Untuk memahami spesifikasi setiap jenis intelegensi dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Linguistic Intelligence (Inteligensi bahasa atau verbal)

Intelegensi bahasa atau kata adalah kapasitas seseorang untuk menggunakan kata-kata secara efektif baik secara oral (seperti: penceritera, orator, atau politisi) atau secara tertulis (seperti: penyair, editor, jurnalis). Intelegensi ini meliputi ablitas untuk memanipulasi sintak atau struktur bahasa, fonologi, atau suara bahasa, makna atau semantik bahasa, dan demensi pragmatic atau penggunaan bahasa praktis. Beberapa penggunaan bahasa antara lain meliputi retorika, mnemonics, explanation, dan meta bahasa.

  1. Logical-Mathematical Intelligence (intelegensi logika dan matematik)

Intelegensi logika dan matematik merupakan kapasitas seseorang dalam menggunakan angka secara efektif (seperti: ahli matematika, akuntan pajak, ahli statistic), dan untuk menalar dengan baik (seperti: ilmuwan, programer komputer, atau ahli logika). Intelegensi ini memuat kepekaan dalam pola-pola logika dan hubungan, penyataan dan preposisi (jika-maka, sebab-akibat), fungsi dan hubungan-hubungan abstrak. Jenis-jenis pemrosesan informasi yang menggunakan intelegensi logika matematik terdiri atas: pengkategorian, klasifikasi, meramalkan, generalisasi, kalkulasi, dan uji hipotesis.

  1. Visual-Spatial Intelligence (Intelegensi spasial-visual)

Intelegensi spasial-visual adalah abilitas seseorang untuk merasakan dunia visual-spasial secara efektif 9seperti pemburu, pengintai dan pemandu), dan untuk mentransformasi persepsi pada perilaku (seperti: decorator interior, arsitek, artis, pencipta). Intelegensi ini mencakup sensitivitas terhadap elemen warna, garis, bagian potongan, bentuk, ruang, dan hubungan yang terjadi antar elemen. Intelegensi ini juga merupakan kapasitas untuk memvisualisasi atau menyajikan ide dalam bentuk grafis visual atau spasial.

  1. Bodily-Kinesthetic Intelligence (Intelegensi bodi-kinestetik)

Intelegensi bodi merupakan keahlian seseorang dalam menggunakan keseluruhan tubuhnya untuk mengekspresikan ide dan perasaan (seperti: aktor, pelawak, atau badut, atlet dan penari), dan menggunakan tangan dengan mudah untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu (seperti: ahli pembuat kapal, pemahat patung, ahli mekanik, dan ahli bedah). Intelegensi ini meliputi keterampilan fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan gerak tubuh sebaik kapasitas proprioceptive, otot, dan haptic.

  1. Musical Intelligence (Intelegensi music)

Intelegensi music adalah kapasitas seseorang untuk merasakan (seperti pemusik afocinado); membedakan (seperti pengkritik musik); transformasi seperti composer); dan mengekspresikan (seperti ahli pertunjukan) bentuk-bentuk musik. Intelegensi ini meliputi kepekaan pada rhytm, pict atau melody, dan timbre atau potingan nada dari musik. Seseorang dengan intelegensi musik kuat mempunyai pemahaman musik top-down (global, intuitif), pemahaman formal atau bottom-up (analitik, teknikal) atau keduanya secara baik.

  1. Interpersonal Intelligence (Intelegensi untuk berhubungan dengan orang lain)

Interpersonal atau intelegensi untuk berhubungan dengan orang lain adalah abilitas seseorang untuk merasakan dan membuat perbedaan dalam mood, intensi, motivasi, dan perasaan orang lain. Intelegensi ini mencakup sensitivitas terhadap ekspresi muka, suara, dan gesture, kapasitas untuk membedakan atara berbagai jenis cues interpersonal; dan abilitas untuk merespon secara efektif terhadap cues dalam beberapa cara prakmatik (seperti: untuk memepngaruhi kelompok orang agar mengikuti aturan atau garis tertentu).

  1. Intrapersonal Intelligence (Intelegensi intrapersonal atau intelegensi self)

Intelegensi intrapersonal atau intelegensi self adalah kemampuan self-knowledge seseorang dan abilitasnya untuk bertindak secara adaptif atas dasar pengetahuan. Intelegensi ini meliputi keakuratan seseorang dalam penggambaran diri (kekuatan dan kelemahan diri); kesadaran atas mood dari dalam, intense, motivasi, tempramen, dan keinginan; dan kapasitas untuk mendisiplin diri, pemahaman diri, dan penghargaan diri merespon secara efektif terhadap cues dalam beberapa cara prakmatik 9seperti: untuk mempengaruhi kelompok orang agar mengikuti aturan atau norma tertentu).

  1. Naturalistic Intelligence (intelegensi naturalistik)

Intelegensi naturalistik adalah abilitas seseorang untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi pola-pola yang ada dalam alam. Intelegensi naturalistic barangkali dapat dilihat bagaimana cara seseorang berhubungan dengan lingkungannya dan peran yang dia mainkan dalam berhubungan dengan alam. Seseorang yang sensitif dengan perubahan pola musim atau kemampuan beradaptasi dengan alam barangkali merupakan ekspresi abilitas intelegensi naturalistik.

Berdasarkan pemahaman atasi konsep MI dan delapan intelegensi sebagaimana diuraikan di depan, maka ada empat poin pokok untuk memahami MI siswa. Empat poin pokok tersebut yaitu bahwa intelegensi siswa: (1) merupakan sesuatu yang dinamis, terus tumbuh dan berubah sepanjang hayat, dan bukan sesuatu yang statis yang dibawa sejak lahir; (2) intelegensi dapat diperbaiki, diperluas, dan diperkuat; (3) keterbatasan intelegensi dibuat oleh individu sendiri (Lazear, 1991); dan sebagian besar potensi intelegensi seseorang terpendam (laten) dan dapat ditingkatkan, dapat dibangun kembali, atau dikuatkan dengan cara dilatih (Perkins dan Grotzer, 1997). Memperhatikan empat poin pokok dalam memahami MI siswa, ini berarti bahwa perkembangan jenis-jenis intelegensi setiap individu akan bervariasi kualitasnya. Relevan dengan simpulan ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap anak mempunyai tingkatan intelegensi yang berbeda untuk setiap jenisnya (Amstrong, 1993). Hasil survey terhadap 3064 orang di AS yang dilakukan MIDAS (2000) mendukung pendapat Amstrong tersebut, yaitu bahwa profil jenis intelegensi yang dominan kuat dimiliki mereka terdistribusi seperti dalam tabel berikut.

Tabel Profil jenis intelegensi yang dominan kuat dimilik oleh subyek yang disurvei oleh MIDAS*)

Jenis intelegensi

Jumlah individu

Persentase

Logical

559

18%

Musical

334

11%

Linguistic

580

19%

Spatial

293

10%

Interpersonal

559

18%

Intrapersonal

322

11%

Kinesthetic

289

9%

Naturalist

128

4%

Jumlah

3064

100%

*) Diadaptasi dari The freepolls.com survey: MIDAS

Buku Sumber:

Soeharto, dkk. 2011. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Modul, Media, dan Evaluasi Bimbingan dan Konseling. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 113 Universitas Sebelas Maret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s