Konseling Eksistensial Humanistik


Konsep Dasar

Sebenarnya Eksistensial “Humanistik” dengan tokoh Victor Frankl dan Rollo May ini bukan terapi, tetapi filsafat sebagai pendekatan yang berkembang dari reaksi terhadap dua model besar dalam terapi, yaitu Psikoanalisis dan Behaviorisme.

Dalam pandangan Victor Frankl sebagai tokoh Logo Therapy (Logo Therapy adalah terapi yang menekankan pada kebermaknaan hidup dengan amalan) yang juga bicara eksistensial “humanistic”, terapis memasuki dunia subyektif klien tanpa praduga apapun. Sedang Sigmund Freud memasuki dunia klien dengan memaksakan pendapatnya dalam bentuk interpretasi.

a.   Konsep Utama

Konsep utama Eksistensial humanistic adalah freedom (kebebasan) dan responsibility (tanggung jawab). Manusia disamping ada keunikan diri sendiri, ia “manusia” tidak lepas dari keberadaan orang lain. Gejala alienasi (penyimpangan) merupakan gejala keterasingan dengan diri sendiri, dengan lingkungannya, atau dengan Tuhannya, sehingga individu yang bersangkutan kehilangan eksistensi diri.

Eksistensial Humanistik diperlukan bagi individu yang mengalami kekosongan batin; tingkah lakunya merupakan refleksi dari apa yang diharapkan orang lain pada dirinya; misalnya, dengan terpaksa, terlanjur, dsb.

Dosa eksistensial dalam bentuk memilih tidak memililh dalam situasi memilih dengan pilihan semakin banyak/kesadaran makin luas; tidak pernah memilih/kesadaran sempit.

Ada persamaan dan perbedaan antara Eksistensial dan Humanistik. Persamaan dan perbedaan itu adalah sebagai berikut:

(1)        Persamaan: Eksistensial Therapy (Subjective reality, Kepercayaan pada Klien) sama dengan Humanistic Therapy (Freedom, Choice, Meaning, Otonomy, Value, Tujuan & Personal responsibility).

(2)        Perbedaan: Existensial Therapy (menekankan pada kecemasan, dan pada manusia tidak ada internal nature) VS. Humanistic Therapy (Tidak terlalu menekankan kecemasan, tiap manusia mempunyai potensi untuk membuktikan mendapat kondisi natural yang tumbuh secara otomatik).

b.   Tingkah laku bermasalah (patologis) dan sehat

Perkembangan kepribadian normal berlandaaskan pada keunikan masing-masing individu. Determinasi diri dan kecenderungan kearah pertumbuhan adalah gagasan-gagasan sentral. Kondisi tingkah laku patologis merupakan akibat dari kegagalan dalam mengaktualisaasikan potensi diri, yang ditandai dengan rasa bersalah eksitensial dan rasa bersala neurotik, serta antara kecemasan eksistensial dan kecemasan neurotik.

Tujuan Konseling

Tujuan konseling Eksistensial Humanistik adalah membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri sehingga klien bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.

Untuk mencapai tujuan tersebut konseling Eksistensial Humanistik menyajikan kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan dengan menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi diri.

Hubungan terapeutik dalam konseling

Tugas utama konselor Eksistensial Humansitik adalah menangkap secara akurat potensi dan keunikan yang ada pada diri pribadi klien serta menciptakan pertemuan yang bersifat pribadi dan keunikan yang ada pada diri pribadi klien serta menciptakan pertemuan yang bersifat pribadi dan otentik dengan klien. Sedang klien berusaha menemukan secara akurat potensi dan keunikan diri pribadinya dalam rangka mengatasi hambatan aktualisasi diri, sehingga dengan demikian dengan penuh kesadaran memilih secara bebas dan bertanggung jawab arah kehidupannya.

 

Teknik terapi dalam konseling

Pemerataan konseling Eksistensial Humanistik menekankan dan mendahulukan pemahaman (insight) dan merasakan tentang diri sendiri alih-alih (bukannya) teknik. Sehingga pendekatan konseling ini bisa meminjam teknik-teknik dari pendekatan konsleing lain. Prosedur diagnosis, testing, serta pengukuran psikologis dan eksternal yang lain dipandang oleh pendekatan ini tidak penting.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, G. 1986. Theory and practice of counseling and psychotherapy. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company

George, R.L & Christiani, T.S. 1990. Counseling: theory and practice. Boston: Allyn and Bacon

Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang

Rosjidan. 1988. Pengantar teori-teori konsleing. Jakarta: Direktorat Pendidikan Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Shiling, L. E. 1984. Perspective on counseling theories. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs.

Sukardi, D.K. 1985. Pengantar teori konseling: suatu uraian ringkas, Jakarta Timur: Ghalia Indonesia

 

 


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s