Landasan Sosial Budaya Bimbingan dan Konseling


 Rasional

1. Bimbingan dan Konseling tertuju pada individu manusia dan pengubahan tingkah lakunya.

2. Manusia pada hakekatnya:

a. Makhluk individual dan makhluk sosial (Notonegoro, 1967).

1) Makhluk individual, memiliki ciri khas yang membe-dakan dengan manusia yang lain.

2) Makhluk sosial, merupakan bagian hidup bersama dengan manusia yang lain. Dalam hidupnya dituntut untuk berbuat dan bertigkah laku yang bermakna.

b. Manusia merupakan perwujudan dari percampuran antara individual uniquess, cultural specifity, dan human universality. (Cox dalam Speiht et al. 1991):

1) Individual uniquess, unik/memiliki keunikan.

2) Cultural specifity, bercirikan budaya lingkungannya—produk lingkungan budaya.   

3) Human universality, memiliki ciri-ciri sebagaimana ciri-ciri manusia pada umumnya.

3. Tingkah laku manusia:

a. Tingkah laku manusia tumbuh dan berkembang di lingkungan sosial budaya—di dalamnya terdapat nilai-nilai /norma/aturan-aturan yang dianut.

 b. Tingkah laku manusia tumbuh dan berkembang—terben-tuk melalui proses sosialisasi dan belajar sejak lahir sepan-jang hidupnya di dalam lingkungan budayanya melalui pro-ses pewarisan dan aktifitas belajar—internalisasi nilai-nilai.

4. Konselor sebagai profesional bidang layanan bimbingan dan konseling harus memiliki komitmen secara mendalam terhadap sistem nilai: memahami nilai budaya sendiri dan nilai budaya klien untuk keberhasilan layanan (Smith, 1965). Konselor dalam bekerja mutlak mempertimbangkan nilai-nilai budayanya sendiri maupun nilai budaya klien (Stewart& Warnath (1965).            

 

Kebudayaan, Nilai Budaya dan Tingkah Laku Manusia

1. Kebudayaan

a. Tentang kebudayaan belum diperoleh rumusan tunggal yang menyatukan berbagai pandangan tentang kebudayaan.

b. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam makalahnya “Culture: a Critical Review of Concept and Definitions” tahun 1952 telah menganalisis dan mengklasifikasikan 179 definisi mengenai kebudayaan, dan menyatakan: ”Kebudayaan adalah suatu pola, baik secara eksplisit maupun implisit, dari atau bagi perilaku yang diperoleh dan ditransmisikan melalui simbol konstitusi yang berbeda yang terdapat di dalam kelompok masyarakat; yang meliputi bagian-bagiannya dan yang dicip-takannya, dan esensi budaya asli yang terdapat pada masyarakat tradisional, ide dan terutama berhubungan dengan nilai”.

c. Edward B. Taylor (1871): “Budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, keper-cayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, serta kemampuan -kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”.

d. Ki Hadjar Dewantara (1967): Kebudayaan  berarti segala apa yang berhubungan dengan “budaya” yang tidak lain adalah “buah budi  manusia”. Kebudayaan adalah hasil perjuangan manusia dalam melawan segala kekuatan alam dan pengaruh zaman yang dirintangi kemajuannya, kema-juan ke arah hidup selamat dan bahagia sebagai wujud keinginan dan hasrat manusia untuk mencapai hidup yang serba senang, hidup lahir dan batin.

e. Di dalam lingkungan sosial budaya berkembang nilai budaya. Nilai budaya terpateri dalam kebudayaan dan meru-pakan inti kebudayaan (Ambroise, 1993); terinternalisasi ke dalam diri seseorang individu melalui pendidikan dalam proses sosialisasi—keluarga, sosial masyarakat, lembaga pendidikan, tradisi, agama, media masa, kelompok sebaya.

2. Nilai Budaya dan tingkah laku manusia

a. Kluckhohn dan Strodbeck (dalam Carter, 1991) nilai budaya merupakan konsep yang bersifat fundamental yang berhubungan dengan normative cognitive, conative dan affective:

1) Normative cognitive berkenaan dengan pemikiran tentang life and universe,

2) normative conative berkenaan dengan selection of a particular course of action,

3) normative affective berkenaan dengan what is felt as important and desirable.

Nilai budaya adalah kekhasan dalam mana anggota kelompok menganggap penting dan diinginkan sebagai pedoman individu-individu anggota kelompok berperilaku, sebagai dasar pembentukan norma kelompok serta menjadi gaya hidup yang menguntungkan bagi anggota kelompok.

b. Sitaram dan Haapanen (dalam Carter, 1991), nilai budaya memunculkan norma perilaku dan gaya hidup yang menjadi pedoman/petunjuk perilaku seseorang sebagai pribadi, hubungan antar pribadi dan menjadi pola sosio-kultural masyarakat.  

c. Ibrahim (1991): Nilai budaya bersifat mutlak, mendasar dan universal, disamping bersifat terapan kontekstual dalam kehidupan sesuai perkembangan kebudayaan masyarakat. Nilai budaya bersifat spesifik dalam specific culture, bersifat unik/khas dalam unique culture sebab, konteks budaya yang berbeda mengantarkan pada perkembangan pandangan hidup, kepercayaan, nilai, pendapat, model penanganan sosial, tingkah laku yang unik, dan harapan,            

d. Kuntjaraningrat (1984), nilai budaya sebagai tingkat yang paling abstrak dari adat yang merupakan ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehi-dupan masyarakat, sehingga berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.

e. Andre Benoit (dalam Kaswardi, 1993), nilai budaya adalah ungkapan teoritik dari apa yang dipandang sahih, dicari, dikejar sebagai pedoman yang memungkinkan seseorang menilai kebaikan sesuatu—harus dipelajari.

f. Pandangan hidup: sikap terhadap kebudayaan, dunia, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya serta semangat dan pandangan yang terdapat pada zaman tertentu (Kamus Besar Bahas Indonesia 1989: 1010).

g. Mulder (1996): pandangan hidup adalah sebuah penga-turan mental dari pengalaman, dan pada gilirannya mengembangkan suatu sikap terhadap hidup; terbentuk oleh cara berpikir dan cara merasakan tentang nilai-nilai, organi-sasi sosial, kelakuan, peristiwa-peristiwa, dan segi-segi lain dari pengalaman.

h. Pandangan hidup terbentuk melalui proses waktu yang panjang, seiring dengan perkembangan kebudayaan manu-sia—Contoh: pandangan hidup Jawa sebagai filsafat hidup Jawa (Ciptopawiro, 1986).

i. Edward Spranger (dalam Stagner, 1974): Orientasi Nilai Budaya mempengaruhi perkembangan kepribadian manu-sia, yaitu bahwa nilai budaya tercermin pada perilaku dasar:

1) N.B. Religius (keagamaan), perilaku dasar manusia adalah menuju kepada nilai tertinggi—Tuhan, terwujud dalam perilaku yang berorientasi pada makna hidup, senang memuji, menuju kekeselarasan batin, kesela-rasan dan ketenteraman hidup, dan moralis

2) N.B. Estetis, perilaku dasar manusia menikmati dan menghayati, terwujud dalam perilaku hidup bersahaja, impresionist, ekspresionist subyektif, berorientasi pada keselarasan dengan alam, dan mudah bergaul.

3) N.B. Ilmu Pengetahuan, perilaku dasar manusia ber-pikir, terwujud dalam perilaku hasrat akan pengetahuan besar, ingin tahu, ingin belajar, logis, rasional, obyektif, cinta kebenaran, teoritik, dan individualistik

4) N.B. Ekonomi, perilaku dasar manusia aktif & beker-ja, terwujud dalam perilaku senang bekerja, bergagas-an praktis, berorientasi pada kegunaan, berorientasi pada prestasi kerja, memperjuangkan hidup, mengejar kekayaan/harta, egosentris, dan kikir.

5) N.B. Sosial, perilaku dasar manusia berbakti, terwu-jud dalam perilaku cinta kasih sesama, senang berkor-ban, mengabdi kepentigan umum, dan pandai bergaul.

6) N.B. Politik, perilaku dasar manusia ingin berkuasa, terwujud dalam perilaku mendominasi & menguasai orang lain, kurang mencintai kebenaran, dan memak-sakan kehendak/nilai pada orang lain.

Faktor Budaya dalam Bimbingan dan Konseling

1. Profesi Bimbingan berintikan “Konseling” yang memiliki definisi bermacam-macam berdasarkan atas sudut pandangan pendefinisian, yaitu bahwa konseling dipandang sebagai komunikasi antar pribadi (relationship), sebagai proses yang dilalui (process), dan sebagai pertemuan tatap muka (face to face relation), dengan berazaskan hubungan antar pribadi (hubungan interpersonal).  

Contoh Definisi konseling:

a. Counseling denotes a professional relationship between a trained counselor and a client. The relationship is usually person to person, altough it may some times involve more than two person. It is designed to help client to understand and clarify their view of their life-space, and to learn to reach their self-determined goal through meaningful, well informed choices and through resolution of problems of emotional or interpersonal nature (Burks & Stefllre dalam George & Cristiani, 1991).

b. Individual counseling or psychotherapeutic counseling is two person situation consisting of an expert and a client who meet is formally agreed upon way for the explicit purpose of discussing the problem of the client. The goal of the meeting is to reduce the severity of the problems that the client has, which means that some change should occur in the client psychological condition ways of managing the business of living of both (Yulian Wohl dalam Winkel, 1991).

2. Proses konseling melibatkan dua pribadi atau lebih; masing-masing pribadi membawa sistem nilai yang telah terbentuk di lingkungan budayanya.

Terkait dengan sistem nilai yang telah terbentuk pada setiap pribadi, Sue (dalam Copeland, 1983) menegaskan bahwa setiap konselor dalam melaksanakan konseling dituntut memiliki keterampilan berperilaku yang didukung kompetensi-kompetensi berikut:

a.  Mampu mengidentifikasi masalah perbedaan budaya klien dan mamilih teknik perbaikan yang tepat,

b.  Mampu menentukan harapan klien tentang hasil proses konseling,

c.   Mampu menggunakan tes dalam kaitannya dengan situasi budaya dan latar budaya serta pengalaman klien,

d.  Mampu memfokuskan perilakunya sendiri dan memahami perbedaan pribadi.  

3. Konselor sebagai profesional yang memiliki kompetensi mengendalikan konseling sangat perlu memanfaatkan nilai-nilai budaya yang ada dan berkembang di dalam suatu lingkungan budaya dalam membantu  klien menyelesaikan sendiri masalah psikologisnya (Sutarno,2005). Sementara itu konselor menerapkan prinsip dan kaidah profesional dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lingkungan budaya dimana konseling dilaksanakan seperti halnya terapi morita dan terapi naikan yang berakar pada budaya dan pemikiran Jepang (Berry et al. 1992).  

4. Contoh manfaat nilai tradisional dalam prosedur konseling:

a. Terapi morita dan naikan di Jepang, merupakan contoh indigenous therapy yang dikembangkan berdasarkan nilai-nilai budaya salah satu bangsa timur yang mengacu pada filsafat timur sebagai reaksi terhadap pendekatan terapi yang berakar pada nilai-nilai budaya yang mengacu pada filsafat barat yang ternyata tidak cocok bagi klien yang diasuh dengan pola asuh yang bersumber pada nilai-nilai budaya yang mengacu pada filsafat timur.

b. Terapi Voodo di Haiti yang merupakan bentuk terapi sintesis antara keyakinan dan praktek terapi Afrika, Roma Katolik, dan keyakinan lokal ke dalam suatu agama kerak-yatan yang telah berfungsi untuk memberikan kepada orang-orang Haiti suatu perasaan jati diri yang unik.

c. Di Nigeria dikenal dengan traditional helping process (Mallum, 1983 dan Bullus 1989) yang berarti: (a) Pengabdi-an untuk membantu individu atau kelompok individu menye-lesaikan masalah, (b) Tujuan memberi bantuan agar individu atau kelompok individu dapat menyelesaikan masalah priba-dinya, (c) Pemberian bantuan penyelesaian masalah dilak-sanakan dengan cara mempengaruhi dalam hubungan inter-personal antara helper dan helpee, dan (d) Proses pembe-rian bantuan penyelesaian masalah mendasarkan pada nilai-nilai tradisional yang berlaku pada masyarakat dimana helper dan helpee melaksanakan hubungan interpersonal yang bersifat teraputik.

5. Penelitian tentang pengaruh nilai budaya terhadap keefek-tifan dan keberhasilan terapi psikologis telah dilakukan oleh Duncan dan Pryzwansky (1983), Poston, Craine, dan Atkinson (1991), Arbona, Flores, dan Novy (1995), dan Sutarno pada lingkungan masyarakat Jawa Kejawen Surakarta (2005), yang hasilnya dapat disimpulkan bahwa nilai budaya helper, helpee, dan lingkungan masyarakat dimana helper dan helpee mela-kukan hubungan interpersonal yang bersifat teraputik mempu-nyai pengaruh yang besar terhadap keefektifan dan keber-hasilan terapi.       

6. Mallum (1983) menjelaskan bahwa ciri-ciri proses membantu yang mengacu pada nilai-nilai budaya yang bersifat tradisional adalah membantu orang lain untuk (a) memahami dirinya dan orang lain, (b) mencapai penyesuaian yang lebih baik, dan (c) meningkatkan kehidupan yang memuaskan.

Sedang ciri-ciri proses membantu yang mengacu pada nilai-nilai yang bersifat profesional adalah membantu orang lain untuk (a) pertumbuhan dan perkembangan mencapai tujuan,  (b) perubahan tingkah laku yang positif, dan (c) menghadapi kehidupannya.   

Oleh: Dr. Sutarno, M.Pd. Dosen BK FKIP UNS. 2009

About these ads

Satu gagasan untuk “Landasan Sosial Budaya Bimbingan dan Konseling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s