Pemahaman Individu dengan Teknik Non Testing


Memahami individu dengan teknik non testing merupakan teknik utama yang harus dikuasai oleh seorang konselor sekolah. Walaupun ada teknik testing untuk pemahaman individu. Tetapi sebagai tes yang terstandar, validitas dan reliable teruji, teknik testing sejauh ini baru dapat memahami individu pada aspek inteligensi, bakat, minat dan kepribadian. Sementara dalam pengumpulan informasi tentang diri klien, konselor dihadapkan pada kenyataan yang lebih kompleks. Seperti aspek biofisiologis, biologis, sosial, kepribadian dan nilai-nilai klien yang dipengaruhi oleh budaya yang dapat menjadi penyebab masalah klien belum dapat diungkap dengan teknik testing.

Konselor menggunakan teknik testing atau teknik non testing itupun ditentukan oleh sasarannya. Apakah konselor hendak memahami klien pada aspek psikis, sosial atau fisiknya. Misalkan, konselor yang dihadapkan pada permasalahan klien yang mengalami masalah belajar. Tidak selalu penyebab klien mengalami kesulitan belajar karena tingkat inteligensinya rendah, tidak minat atau tidak berbakat dibidang tertentu. Banyak hal lain yang menyebabkan klien mengalami kesulitan belajar, seperti mungkin gangguan kesehatan, masalah dalam keluarganya, atau hubungan sosial dengan teman-temannya.
Secara Terminologis

Dikaji dari segi bahasa, pemahaman berarti proses kegiatan pengumpulan informasi untuk dapat mengenal, mendalami, mengerti dan memahami individu secara keseluruhan baik masalahnya maupun latar belakangnya serta kehidupan individu itu sendiri.

Klien yang datang kepada Konselor tidak tahu masalah yang dihadapinya. Analoginya seperti seorang pasien yang datang kepada dokter dengan harapan sembuh dari penyakit yang sedang dideritanya. Pasien yang datang ke dokter, tidak tahu dia sedang mengalami sakit apa. Oleh karena itu, pasien bertanya kepada dokter sedang sakit apa dan bagaimana cara agar dapat sembuh. Begitu pula dengan seorang klien yang mengalami masalah. Klien tidak tahu apa masalah yang sedang dihadapinya dan bagaimana cara penyelesaiaannya.

Dengan melakukan pemahaman individu, konselor melakukan pengumpulan informasi mengenai diri klien, kemudian konselor dapat melakukan diagnosis terhadap masalah klien. Pengumpulan informasi yang dimaksud yang itu berkaitan dengan individualitas klien.

Individu berarti makluk monodualis yang terdiri dari individual dan sosial. Makhluk individual merupakan kesatuan antara aspek biofisiologis, biologis dan aspek fisik. Pada aspek biofisiologis dalam diri manusia antara lain kesegaran jasmani, kesehatan dan kekurangan fisik. Aspek biologis seperti perbedaan kelenjar tiap manusia yang menyebabkan berbeda dengan manusia yang lain. Perbedaan kelenjar ini dapat dilihat dari perbedaan perkembangan antara pria dan wanita, anak-anak yang mengalami kretinoid atau gigantisme. Pada aspek psikis terdapat kecerdasan, minat, bakat, sikap dan kepribadian. Individu sebagai makhluk sosial senantiasa tingkah lakunya dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia besar dan berkembang seperti keluarga, status anak dalam keluarga, dan teman sebaya.

Aspek-aspek pada diri individu itu yang hendak dipahami oleh konselor dalam rangka melakukan langkah-langkah bimbingan dan konseling. Jika dilihat dari banyaknya aspek-aspek yang harus dipahami oleh konselor, penggunaan teknik non testing amat sangat diperlukan.

Penggunaan Teknik Non Testing
Tes merupakan seperangkat tugas atau pertanyaan yang harus dijawab oleh testi. Selama ini kita mengenal berbagai tes psikologis. Seperti tes kecerdasan (WAIS, WISC, Binet Simon, Raven, tes Progressive Matrics), tes bakat kerja Kraepelin, Tes minat jabatan Lee Thorpe. Tes-tes ini merupakan tes terstandar yang telah dibuat kemudian diadaptasi di Indonesia. Tes-tes ini berguna untuk memahami individu dari aspek psikis, kognitif, non kognitif dan kepribadian yang hasilnya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara non testing berarti seperangkat teknik selain tes-tes terstandar. Teknik non testing dapat berupa Observasi, interview, angket, inventori, dan catatan-catatan. Dalam penggunaannya teknik non testing pun disesuaikan dengan aspek yang ingin dipahami oleh konselor. Seperti misalkan Konselor hendak memahami bagaimana hubungan kerukunan klien dengan temannya. Maka, konselor cukup dapat menggunakan metode observasi bukan wawancara. Dengan melakukan observasi, konselor mengamati bagaimana kerukunan yang terjalin antara klien tersebut dengan temannya. Konselor tidak seharusnya bertanya “Apakah Anda rukun dengan teman Anda?, karena konselor cenderung akan kesulitan dalam mendapatkan jawaban yang sebenarnya dan kurang dapat memahami individu tersebut.

Penggunaan teknik non testing, digunakan untuk melihat gejala-gejala tingkah laku klien yang bermasalah dan mengetahui latar balakang atau penyebab masalah klien. Masalah klien yang satu dengan yang lain berbeda, bisa jadi gejalanya sama tetapi penyebabnya berbeda. Oleh karena itu, senantiasa konselor akan benyak menggunakan teknik non testing dalam memahami individu ketimbang menggunakan teknik testing.

Target Pembelajaran

Konselor yang berada di daerah perkotaan dimana tes terstandar mudah didapatkan atau instrument lain yang telah ada baik tes maupun non tes. Dapat menggunakan instrument-instrumen tersebut. Akan tetapi apabila konselor tidak mempunyai alat-alat instrument tersebut bukan berarti proses pengumpulan informasi klien tidak bisa dilaksanakan. Misalkan konselor yang berada di pedesaan yang aktivitas akademisnya masih minim.

Pada teknik non testing, konselor dibekali seperangkat keahlian untuk merancang, membuat, melakukan uji coba dan menerapkan instrument non test. Sehingga, Konselor dapat membuat sendiri alat-alat instrument yang dibutuhkan untuk memahami individu apabila tidak ada. Seperti pembuatan Alat ungkap masalah (AUM). Sebenarnya, pembuatan instrumen-instrumen ini dapat pula dibuat secara bersamaan oleh konselor-konselor dalam suatu daerah. Melalui musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) misalnya. Walaupun pada kenyataan saat ini, Konselor sekolah yang variatif (bukan lulusan BK) menjadi penghambat dalam pembuatan instrument non tes dalam rangka pemahaman individu.

Proses pengumpulan informasi klien (pemahaman individu), bagi konselor mutlak kiranya diperlukan. Konselor yang tidak dapat memahami individu dengan menggunakan teknik non testing sebetulnya tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Hal ini memang menjadi suatu permasalahan bagi perkembangan keilmuan Bimbingan dan Konseling. Pada realitasnya, banyak konselor sekolah atau guru BK yang bergantung pada penggunaan tes terstandar dan tidak mampu melakukan proses pengumpulan informasi tentang diri klien dengan baik. Akibatnya, klien menjadi tidak terpecahkan permasalahan dan menjadikan ruangan bimbingan dan konseling semacam tempat pembuangan akhir bagi pendidik dan peserta didik.

Sumber : Presentasi Mata Kuliah Pemahaman Individu Teknik Non Testing Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UNS 2011. Dosen pengampu: Dr. Sutarno, M.Pd. Mohon pembenahan apabila terdapat kesalahan dalam penulisan.

About these ads

3 gagasan untuk “Pemahaman Individu dengan Teknik Non Testing

  1. Ping-balik: Wawancara Sebagai Teknik Pemahaman Individu | himCayoo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s