S1: Minta Gaji di Atas Kompetensi?


Empat minggu terakhir ini saya telah mewawancarai hampir seratus calon sarjana dari berbagai jurusan dari berbagai universitas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dari lembar biodata yang mereka isi, saya menjadi tertengun bahwa sekitar 50 persen lebih calon sarjana S1 itu meminta gaji di atas Rp 5 juta pada bulan pertama mereka bekerja. Lebih terkejut lagi ada sekitar 10 persen calon sarjana itu yang meminta gaji di atas Rp 10 juta per bulan. Bahkan ada satu orang yang meminta gaji Rp 20 juta per bulan.

Saya menjadi bingung apa sih yang mereka pikirkan kerika meminta gaji tersebut? Berbekal keingintahuan ini, akhirnya saya mewawancarai mereka satu per satu. Pertama, mengapa Anda meminta gaji sebesar itu? Dan apa alasannya? Umumnya dengan percaya diri mereka menjawab karena mereka memiliki kompetensi tertentu sehingga perusahaan wajib membayar sesuai permintaan mereka.

Ketika ditanya, apa kompetensi yang Anda miliki yang bisa diandalkan membantu perusahaan agar lebih efektif dan efisien? Calon sarjana menjawab, mereka mempunyai ilmu pertanian yang bisa menguntungkan perusahaan. Misalnya ilmu apa? Dijawab ilmu survey lahan. Ketika pertanyaan saya lanjutkan berkaitan dengan skill: Bila kontur tanah sekitar 15 persen maka berapa lama waktu suvei tanah seluas 100 hektare? Ketika pertanyaan itu diajukan sang calon sarjana hanya bisa terbengong tidak bisa menjawab lagi. Continue Reading

SUPERKIDS


Mari kita me-review kembali cara pandang dan ekspektasi kita terhadap buah hati tercinta…

Ada sebuah tulisan bagus dari Dewi Utama Faizah, dari Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Anak-anak yang digegas

Menjadi cepat mekar

Cepat matang

Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Di mana-mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market I

Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidaktahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Di antaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ?

James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya sejak si anak masih benapa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einsten yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja.

Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia….

  Continue Reading

Fenomena Mahasiswa dan Dosen dalam Institusi Pendidikan

Fenomena Mahasiswa dan Dosen dalam Institusi Pendidikan Berbasis Riset/Ketrampilan Proses

Dalam rangka mencari jalan tengah dan menyelesaikan permasalahan dalam Studi

 

Prolog

Sudah menjadi paradigma umum bahwa pendidikan adalah salah satu fungsi untuk mencetak keahlian sumber daya manusia. Dalam sudut pandang yang lebih mendasar dan ideologis, tentunya pendidikan menjadi salah satu aspek penting untuk menghasilkan SDM berkualitas sebagai alat pengembangan dan perwujudan satu nilai tertentu. Inilah akhirnya yang menjadi titik tekan sebuah pendidikan. Output keahlian dari mahasiswa atau siswa didik menjadi alat ukur utama dan indikator penting untuk menilai seberapa kualitas sistem pendidikan tersebut.

Namun disadari bahwa sebaik apapun nilai yang mendasari adanya satu pendidikan tertentu (dalam institusi pendidikan tertentu) tentunya tidak akan menjadikan ouptut kualitas pasti terjamin, karena semuanya bergantung pula pada bagaimana implementasi, pengaturan sistem di dalamnya, dan keteraturan dari tiap aspek yang tekait. Inilah yang akhirnya menjadikan adanya ruang bentrok antara nilai dasar adanya pendidikan dengan penerapan sistem yang tidak ideal karena masih banyaknya kekurangan dari aspek institusi pendidikan. Salah satu objek yang menjadi efek dari ketidakidealan tersebut adalah Mahasiswa (salah satu bukan satu-satunya). Mahasiswa yang menjadi objek didik dan tentunya ia diharapkan kedepannya sebagai seorang ahli pastinya menjadi implikasi utama dari adanya ketidakidealan tersebut.


Ketrampilan Proses, Dosen, dan Mahasiswa

Dalam sistem pendidikan yang berbasis riset university sudah selayaknya mahasiswa bukanlah sebagai pengamat dan penerima materi atau konsep saja, tetapi Mahasiswa adalah seorang yang juga memproses dan memahami ulang konsep. Karena dalam institusi pendidikan yang berbasis pada riset (atau dalam istilah lain metode ketrampilan proses), tentunya mahasiswa dituntut untuk mampu memproses sebuah konsep,  selayaknya seorang pembuat teori atau konsep memproses dan menghasilkannya. Karena jika ini tidak dilakukan akan membuat mahasiswa bukannya semakin pintar dan ahli, namun semakin bodoh karena apa yang ia terima tidak melalui sebuah proses berpikir yang mendalam, ada pengujian kelayakan, dan ketika diterapkan di lapangan real karirnya, yang ada bukan mampu memecahkan masalah namun yang ada tektualitas yang mengakar kuat dan juga menjadi moral belajar yang sulit dilepaskan.

  Continue Reading

Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu  yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.

Penyesuaian diri lebih cenderung untuk selalu berproses dan berkembang dengan demikian kemampuan individu dalam melakukan penyesuaian diri pada waktu sekarang ini belum tentu efektif digunakan pada waktu mendatang. Kebutuhan merupakan alasan yang mendorong seseorang berperilaku. Kebutuhan-kebutuhan itu misalnya dapat dikelompokan ke dalam kebutuhan biologis seperti : lapar, haus, seks. Kebutuhan psikologis : kebutuhan rasa aman, cinta kasih, harga diri dan sebagainya.

Lingkungan selalu menyediakan berbagai peluang terhadap pemenuhan kebutuhan individu. Akan tetapi, tidak semua jenis kebutuhan individu bisa dipenuhi oleh lingkungan disebabkan beberapa keterbatasan-keterbatasan yang berkaitan dengan adanya aturan, adat atau norma sosial yang berlaku. Proses interaksi sering dipengaruhi faktor-faktor kepercayaan individu terhadap dirinya sendiri atau terhadap lingkungannya. Kepercayaan terhadap lingkungan dipengaruhi oleh pengalaman belajar. Apabila orang itu mempunyai pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, memuaskan, mengalami banyak keberhasilan dalam melaksanakan pemenuhan kebutuhan, maka ia akan banyak menaruh kepercayaan terhadap lingkungannya. Sebaliknya,apabila orang itu dalam pengalaman belajarnya sering mengalami kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan, ia akan menjadi pesimis dan kurang menaruh kepercayaan terhadap lingkungannya.

Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat  (lifelong process), dan manusia terus-menerus berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat. Respon penyesuaian, baik atau buruk secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi – kondisi keseimbangan yang lebih wajar. Penyesuaian adalah sebagai suatu proses ke-arah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi, dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari ketegangan. Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara – cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.

Tidak semua individu berhasil dalam menyesuaikan diri, dan banyak  rintangannya, baik dari dalam maupun luar. Beberapa individu ada yang  dapat melakukan penyesuaian diri secara positif, namun ada pula yang melakukan penyesuaian diri yang salah.

Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah. Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang seba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang realistic, agresif, dan sebagainya. Continue Reading

Perbandingan Filsafat Dasar, Konsep Utama, Tujuan Dan Hubungan Aliran-Aliran Konseling

1.   Filsafat Dasar Aliran Konseling

No. Aliran Konseling

Filsafat Dasar

1. TERAPI PSIKOANALITIK

Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini. Motif-motif dan konflik-konflik tak sadar adalah sentra dalam tingkah laku sekarang. Kekuatan-kekuatan irasional kuat; orang didorong oleh dorongan-dorongan seksual dan agresif. Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

2. TERAPI EKSISTENSIAL-HUMANISTIK

Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan bertanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendirian dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualisasi diri.

3. TERAPI CLIENT CENTERED

Memandang manusia secara positif, manusia memiliki suatu kecenderungan kearah menjadi berfungsi penuh. Dalam konteks hubungan konseling, konseli mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya diingkari. Konseli mengaktualkan potensi dan bergerak kearah peningkatan kesadaran, spontanitas kepercayaan kepada diri sendiri, dan keterarahan. Ada tiga struktur kepribadian: organism, self dan fenomenal field. Continue Reading

Konseling Berdasar Psikologi Transpersonal

Setelah memperkenalkan beberapa mazhab Psikologi, seperti: Psikoanalisis, Behavioristik, dan Humanistik; kini dunia Psikologi memperkenalkan Psikologi Transpersonal. Psikologi Transpersonal dikembangkan oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik, seperti: Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart, dan lainnya.

Psikologi Transpersonal merupakan turunan langsung dari Psikologi Humanistik. Yang membedakan antara Psikologi Humanistik dengan Psikologi Transpersonal adalah bahwa dalam Psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia.

Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman, seperti: kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi, dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Continue Reading